Kenali Penyebab Anemia Defisiensi Zat Besi, Atasi dengan Nonemi

Anemia merupakan kondisi saat seseorang mengalami penurunan kadar hemoglobin dalam sel darah merah. Anemia defisiensi zat besi merupakan jenis anemia yang umum dialami banyak orang. Salah satu obat untuk kondisi ini adalah Nonemi Tablet.

Hemoglobin adalah protein dalam sel darah merah yang fungsinya untuk mengangkut oksigen ke jaringan tubuh manusia. Anemia defisiensi zat besi bisa terjadi karena tubuh kekurangan zat besi mineral. Sedangkan hemoglobin membutuhkan zat besi.

Ketika dalam aliran darah kekurangan zat besi, maka tubuh tidak akan memperoleh jumlah oksigen yang dibutuhkan jaringan tubuh.

Penyebab Anemia Defisiensi Zat Besi

Anemia defisiensi zat besi memang merupakan kondisi umum yang banyak dialami oleh orang, bahkan tak sedikit yang sadar menderita anemia defisiensi besi ini. Bahkan kondisi ini terjadi selama bertahun-tahun tanpa pernah tahu penyebabnya apa. 

Mungkin kondisi yang dialami ringan, sehingga tidak menimbulkan komplikasi. Akan tetapi, jika anemia kekurangan zat besi ini dibiarkan begitu saja, bisa menyebabkan masalah kesehatan lain. 

Anemia defisiensi zat besi terjadi saat tubuh tubuh kekurangan zat besi untuk memproduksi hemoglobin. Hal ini bisa terjadi karena Anda tidak mengonsumsi zat besi yang cukup, atau karena Anda kehilangan zat besi terlalu banyak.

Berikut beberapa penyebab anemia defisiensi zat besi yang perlu Anda ketahui:

Kekurangan zat besi dalam makanan

Tubuh memang secara teratur mendapat asupan zat besi dari makanan yang dikonsumsi. Namun, jika Anda hanya mendapat asupan zat besi sedikit dalam waktu yang cukup lama, maka bisa menyebabkan tubuh kekurangan zat besi.

Maka dari itu, Anda perlu mengonsumsi makanan yang tinggi zat besi, seperti daging, telur, sayuran berdaun hijau, serta makanan yang diperkaya zat besi.

Perlu diketahui bahwa bayi dan anak-anak juga membutuhkan zat besi untuk bisa tumbuh dan berkembang dengan baik.

Kehilangan darah

Darah mengandung zat besi. JIka tubuh kehilangan darah, maka tentu Anda juga akan kehilangan zat besi. Wanita yang memiliki menstruasi berat berisiko mengalami anemia kekurangan zat besi ini akibat terlalu banyak kehilangan darah ketika haid.

Selain itu, anemia defisiensi zat besi juga bisa disebabkan karena kehilangan darah yang lambat dan kronis, seperti penyakit tukak lambung, polip usus besar, hernia hiatal, hingga kanker kolorektal. Penggunaan rutin obat pereda nyeri yang bisa dibeli bebas, seperti aspirin, bisa menyebabkan perdarahan gastrointestinal.

Ketidakmampuan tubuh menyerap zat besi

Seseorang yang mengalami gangguan usus, seperti penyakit celiac, dapat memengaruhi kemampuan usus menyerap nutrisi dari makanan. Hal ini akan menyebabkan terjadinya anemia defisiensi besi. Sebab, zat besi dari makanan akan diserap dalam aliran darah yang ada di usus kecil.

Ketika bagian dari usus kecil seseorang sudah diangkat melalui pembedahan, maka bisa menyebabkan ketidakmampuan menyerap zat besi maupun nutrisi lain dari makanan.

Kehamilan

Kondisi anemia defisiensi besi ini bisa dialami oleh wanita hamil karena mereka perlu untuk meningkatkan volume darah untuk diri sendiri dan juga sumber hemoglobin untuk janin dalam kandungan. Tanpa adanya suplementasi zat besi, wanita hamil bisa mengalami kekurangan zat besi.

Gejala Anemia Defisiensi Besi

Gejala awal anemia defisiensi besi ini mungkin saja sangat ringan sehingga banyak orang yang tidak menyadarinya. Namun, jika tubuh jadi lebih kekurangan zat besi dan kondisi anemia memburuk, maka gejala pun akan semakin parah.

Berikut beberapa gejala anemia defisiensi besi yang mungkin terjadi:

  • Lemah
  • Mengalami kelelahan ekstrim atau penderita cepat lelah
  • Kulit pucat
  • Pusing atau sakit kepala
  • Terasa nyeri dada, sesak napas atau detak jantung cepat
  • Kuku rapuh
  • Tangan dan kaki menjadi dingin
  • Nyeri lidah atau peradangan
  • Mengidam aneh atau tidak biasa, seperti es, pati, atau tanah
  • Memburuknya nafsu makan, terlebih pada bayi dan anak yang mengalami anemia defisiensi besi.

Segera obati atau temui dokter bila tanda dan gejala yang dialami sudah semakin parah.

Obati Anemia Defisiensi Zat Besi dengan Nonemi Tablet

Nonemi adalah obat yang mengandung mineral, multivitamin, dan asam folat yang berfungsi untuk anemia kekurangan vitamin B dan zat besi. Nonemi ini tergolong obat bebas yang bisa dibeli bebas di apotek.

Obat Nonemi ini bisa diberikan bersama atau tanpa makanan. Tujuan dikonsumsi berbarengan dengan makanan agar absorpsinya lebih baik atau apabila ada rasa tidak nyaman di saluran pencernaan. 

Efek samping setelah konsumsi obat Nonemi ini adalah feses jadi berwarna hitam. Jangan berikan obat ini pada penderita yang sensitif terhadap komponen obat.

Mengenal Ferrous Sulfate, Obat untuk Anemia Defisiensi Besi

Ferrous sulfate adalah obat yang digunakan untuk merawat dan mencegah anemia defisiensi besi. Zat besi membantu tubuh untuk membuat sel darah merah yang sehat, yang membawa oksigen ke seluruh tubuh. Beberapa hal seperti hilangnya darah, kehamilan, atau zat besi yang terlalu sedikit dalam diet Anda dapat membuat asupan zat besi menurun dan mengakibatkan anemia. Ferrous sulfate hadir dalam bentuk tablet, atau tetesan yang Anda telan. Ada tablet dan kapsul ferrous sulfate yang dimodifikasi pelepasannya, namun produk tersebut mungkin tidak dapat diserap dengan baik. Ferrous sulfate tersedia dalam bentuk resep dan OTC yang dapat dibeli di apotek.

Siapa yang boleh dan tidak boleh mengonsumsi ferrous sulfate?

Kebanyakan orang dewasa dan anak-anak usia lebih dari 12 tahun dapat mengonsumsi ferrous sulfate di bawah saran dan resep dari dokter. Namun, ferrous sulfate mungkin tidak akan cocok untuk beberapa orang, misalnya pada mereka yang pernah menderita reaksi ferrous sulfate atau obat-obatan lain sebelumnya. Apabila Anda menderita anemia yang tidak disebabkan oleh level zat besi yang rendah, beritahu dokter. Selain itu, pastikan Anda memberitahu dokter apabila Anda memiliki kondisi yang memengaruhi level zat besi, seperti hemosiderosis atau haemochromatosis, dan memiliki kondisi yang memengaruhi sel darah merah, seperti anemia sel sabit atau thalassaemia. 

Ada pula beberapa kondisi yang perlu mendapatkan perhatian dan dokter harus mengetahuinya sebelum ia meresepkan ferrous sulfate, misalnya jika Anda pernah menderita maag, atau sebagian lambung diangkat, atau memiliki gangguan lambung atau usus seperti penyakit radang usus. Anda juga harus memberitahu dokter apabila Anda menerima transfusi darah berulang kali, melihat adanya darah di air seni, dan telah didiagnosa menderita defisiensi zat besi dan sudah mendapatkan perawatan untuknya. 

Efek samping

Sama halnya dengan obat-obatan lain, ferrous sulfate dapat menyebabkan efek samping bagi beberapa orang. Namun, kebanyakan orang tidak akan menunjukkan gejala efek samping apapun seusai mengonsumsi ferrous sulfate atau hanya memiliki gejala minor. Apabila Anda merasa mual dan muntah, sakit perut, maag, hilangnya nafsu makan, konstipasi, diare, dan kotoran yang berwarna gelap atau hitam, hubungi dokter. Dalam kasus yang langka atau jarang terjadi, ada kemungkinan seseorang akan memiliki reaksi alergi serius terhadap ferrous sulfate. Reaksi alergi tersebut akan menyebabkan ruam kulit yang gatal dan bengkak, kulit yang melepuh atau mengelupas, mengi, tenggorokan dan dada terasa sesak, kesulitan bernapas dan berbicara, serta pembengkakan di wajah, bibir, lidah, dan tenggorokan. Reaksi alergi yang serius perlu mendapatkan perawatan di rumah sakit secepatnya. 

Kehamilan dan menyusui

Biasanya aman untuk mengonsumsi ferrous sulfate pada masa kehamilan. Diskusikan dengan dokter, ia akan menjelaskan manfaat dan risiko mengonsumsi ferrous sulfate pada saat hamil. Dokter dapat membantu Anda memutuskan perawatan terbaik untuk Anda dan bayi. Apabila Anda sedang hamil dan minum suplemen zat besi, Anda akan sering konstipasi dan menderita ambeien. Apabila hal tersebut terjadi pada Anda, diskusikan dengan dokter. Mereka akan menyarankan perawatan untuk mengatasi konstipasi dan ambeien. 

Biasanya ibu dapat mengonsumsi ferrous sulfate pada masa menyusui bayi, dan hal tersebut merupakan hal yang aman. Namun, beberapa bagian obat dapat ikut terbawa ASI dalam jumlah sedikit. Namun, karena jumlah yang sangat sedikit, hal tersebut tidak akan membahayakan bayi. Selalu konsultasi dengan dokter apabila Anda memiliki kekhawatiran saat akan mengonsumsi obat-obatan tertentu.

Ini Gejala Seseorang Mengalami Gangguan Pembekuan Darah

Pernahkah Anda mengalami luka kecil namun darahnya tak kunjung berhenti? Jika sering terjadi demikian, mungkin Anda mengalami gangguan pembekuan darah.

Seperti yangd iketahiu, tubuh memiliki kemampuan untuk mencegah agar volume darah yang hilang atau keluar tidak terlalu banyak dengan mekanisme pembekuan darah atau disebut juga koagulasi. Nah, saat tubuh mengalami luka, secara alami darah di area sekitar luka akan menjadi padat karena adanya faktor pembekuan darah ini. Sehingga luka menjadi tertutup dan perdarahan yang terjadi pun bisa berhenti segera.

Akan tetapi, ada beberapa gangguan pembekuan darah yang membuat darah berhenti lebih lama dan perdarahan jadi lebih berat. Bahkan secara spontan perdarahan terkadang bisa muncul. Hal ini dikarenakan tidak terbentuk atau jumlah faktor pembekuan tersebut sedikit.

Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi, yaitu darah menjadi sulit membeku atau darah akan jadi lebih mudah untuk membeku.

Penyebab Terjadinya Gangguan Pembekuan Darah

Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya gangguan pembekuan darah ini. Faktor utamanya adalah adanya gangguan pada komponen-komponen yang telribat dalam proses pembekuan darah. Misalnya ada masalah pada trombosit dan protein yang merupakan faktor pembekuan darah.

Sel tubuh membutuhkan trombosit dan faktor pembekuan darah lainnya agar darah bisa menggumpal dengan baik. Ketika terjadi luka, trombosit akan berkumpul di area luka dan trombosit akan menyatu satu sama lainnya (agregasi trombosit).

Di waktu yang bersamaan faktor lain dan protein juga bekerja sama dengan trombosit guna membentuk jaringan fibrin yang berguna untuk menyumbat luka sehingga perdarahan berhenti.

Selain karena kekurangan trombosit atau faktor pembeku lainnya, darah yang sulit membeku juga disebabkan oleh kedua faktor tersebut tidak bekerja dengan baik dan optimal. Berikut beberapa penyebab gangguan pembekuan darah lainnya, yaitu:

  • Memilik gangguan medis tertentu yang bisa membuat darah sukar membeku. Penyakit tersebut adalah anemia, gangguan fungsi hati, defisiensi vitamin K, dan juga efek samping dari obat antikoagulan
  • Penyakit turunan juga bisa menyebabkan gangguan pembekuan darah ini. Jenis yang paling sering terjadi adalah hemofilia, penyakit von Willebrand, dan defisiensi faktor pembekuan II, V, VII, X, atau XII.

Tanda dan Gejala Gangguan Pembekuan Darah

Gejala yang dialami oleh orang dengan gangguan pembekuan darah bisa bervariasi, tergantung pada seberapa berat kondisi dan penyebabnya.

Biasanya gangguan pembekuan darah yang ringan mungkin tidak menunjukkan gejala yang berarti. Namun, jika penderita mengalami trauma berat atau setelah menjalani operasi besar, mungkin saja gejala perdarahan baru muncul. Berbeda dengan gangguan pembekuan darah berat, gejala bisa terlihat meskipun hanya mengalami perdarahan spontan saja.

Berikut gejala-gejala yang dialami oleh penderita gangguan pemebekuan darah umum, yaitu:

  • Muncul memar atau lebam biasanya berukuran besar tanpa alasan yang jelas.
  • Terjadi perdarahan berlebihan dan tidka berhenti padahal hanya luka kecil
  • Mimisan tidak berhenti dalam 10 menit
  • Mengalamo perdarahan dalam sendi seperti lutut, siku, dan pergelangan kaki yang menyebabkan rasa nyeri, kaku, hingga bengkak.
  • Gusi kerap berdarah
  • Mengalami demam berulang
  • Volume darah menstruasi sangat banyak
  • Penderita juga mengalami sesak napas, jantung yang berdebar, dan terasa nyeri dada

Gangguan pembekuan darah ini secara umum tidak bisa dicegah. Anda sebagai penderita gangguan ini sebisa mungkin mencegah agar tidak terjadi cedera atau luka agar tidak terjadi perdarahan yang berlebihan.