Mengenal Obat Azomax 500 mg, Antibiotik Golongan Makrolida

Antibiotik merupakan salah satu obat yang berguna membunuh atau memperlambat pertumbuhan bakteri dalam tubuh. Misalnya, obat Azomax 500 mg yang berguna untuk mengatasi infeksi bakteri pada saluran pernapasan, infeksi kulit, hingga kelamin.

Close-up view of a white male hand holding two white pills in the palm above a blurry background showing a dining table with plate, cutlery and glass.

Sebelum adanya antibiotik, hampir 30 persen kasus yang disebabkan oleh bakteri berakhir dengan kematian. Sehingga, wajar jika kini antibiotik dianggap sebagai ‘jagoan’ dalam mengatasi penyakit yang disebabkan oleh bakteri.

Mengenal Golongan Antibiotik

Antibiotik jelas memerlukan resep dari dokter sebelum digunakan. Sehingga konsumsinya harus di bawah pengawasan dokter.

Cara kerjanya adalah dengan membunuh bakteri dalam tubuh dengan menyerang dinging pelapis bakteri, mengganggu reproduksi bakteri, serta menghalangi produksi protein pada bakteri.

Obat antibiotik ini pun ada beragam jenisnya. Masing-masing jenis harus disesuaikan dengan kondisi Anda.

Berikut beberapa golongan antibiotik yang ada.

1. Penisilin

Penisilin merupakan golongan obat antibiotik pertama dalam sejarah medis. Golongan ini gunanya untuk mengobati penyakit seperti radang tenggorokan, sifilis, pneumonia, TBC, meningitis, gonorea, hingga demam rematik.

2. Sefalosporin

Golongan sefalosporin ini mirip dengan penisilin. Sefalosporin bisa menyembuhkan berbagai penyakit mulai dari infeksi saluran kemih, infeksi kulit, infeksi telinga, radang tenggorokan, infeksi sinus, meningitis, hingga gonorea.

Adapun jenis dari Sefalosporin ini adalah cefazolin, cefuroxime, cefaclor, cefadroxil, cefixime, dan ceftriaxone.

3. Tetrasiklin

Golongan antibiotik selanjutnya adalah tetrasiklin, yaitu jenis obat untuk menyembuhkan penyakit akibat bakteri klamidia, protozoa, mikoplasmata, atau rickettsiae.

4. Aminoglikosida

Aminoglikosida merupakan golongan antibiotik yang berguna untuk mengobati infeksi perut, bakteremia, infeksi saluran kemih, hingga endokarditis.

Efek samping dari golongan ini parah. Jadi pasien tidak dianjurkan mengonsumsi obat ini tanpa anjuran dan pengawasan dokter.

5. Makrolida

Makrolida merupakan golongan obat untuk mengobati infeksi pernapasan, infeksi telinga, infeksi menular seksual, infeksi hidung, tenggorokan, hingga mulut. Salah satu obat antibiotik golongan ini adalah Azomax 500 mg. 

6. Klindamisin

Golongan Klindamisin merupakan antibiotik yang bekerja memperlambat atau menghentikan perkembangbiakan bakteri penyebab penyakit. 

Obat golongan ini diyakini dapat mengobati otitis media atau infeksi telinga tengah, infeksi sinus, pneumonia, meningitis, infeksi vagina, jerawat, hingga penyakit radang panggul.

7. Sulfonamid

Golongan sulfonamida merupakan obat antibiotik yang digunakan untuk mengobati diare, infeksi mata, bronkitis, infeksi saluran kemih, pneumonia, hingga luka bakar.

8. Trimetoprim

Antibiotik golongan Trimetoprim merupakan obat untuk mengobati infeksi kandung kemih dan diare. Obat ini biasanya digunakan bersamaan dengan golongan obat antibiotik lain untuk mengobati pneumonia.

9. Kuinolon

Kuinolon merupakan obat golongan antibiotik yang dapat mengobati infeksi saluran pernapasan bawah, infeksi saluran kemih, hingga infeksi kulit.

Mengenal Obat Azomax 500 mg

Azomax 500 mg merupakan obat yang masuk dalam golongan makrolida. Obat azomax 500 mg ini mengandung Azithromycin.

Fungsi Azomax 500 mg ini untuk mengatasi infeksi ringan hingga sedang yang disebabkan oleh bakteri. 

Penggunaan obat ini jelas harus dengan resep dan di bawah pengawasan dokter. 

Efek samping yang mungkin ditimbulkan dari konsumsi obat azomax 500 mg ini adalah diare, muntah, kembung, mual, sakit perut, ruam, anoreksia, lemas, hingga sakit kepala.

Obat ini jelas tidak disarankan dikonsumsi oleh wanita hamil atau menyusui. Selain itu juga tidak disarankan dikonsumsi dengan obat antibiotik golongan makrolida lainnya seperti azitromisin, eritromisin, dan sebagainya. 

Ingat ya, apapun jenis antibiotik yang dikonsumsi, dokter selalu menyarankan agar antibiotik yang dikonsumsi dihabiskan meskipun sudah merasa sembuh. 

Jika pengobatan antibiotik berhenti sebelum semua dosis habis, maka bisa berisiko kembali infeksi dan juga meningkatkan kemungkinan bakteri jadi resisten terhadap antibiotik tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *