Membaca Hasil CT Value Swab Test PCR COVID-19

Penulis: Agnes Sarila Wiridhani

Penyakit COVID 19 disebabkan oleh Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) yang menyerang sistem pernapasan tubuh. COVID-19 dapat menimbulkan gangguan yang serius pada orang dengan penyakit penyerta (komorbid), seperti tekanan darah tinggi, diabetes, infeksi paru-paru, gangguan hati, dan gangguan ginjal. Untuk mengetahui infeksi virus ini, Anda dapat melakuan swab test PCR. Pemeriksaan swab test PCR memiliki tingkat keakuratan yang tinggi, yaiut sekitar 80-90%. 

PCR adalah singkatan dari polymerase chain reaction. Metode pemeriksaan ini digunakan untuk mendeteksi materi genetik dari organisme tertentu, seperti virus dan bakteri. Tes PCR terbukti mampu mendeteksi fragmen virus bahkan setelah Anda tidak lagi terinfeksi.

Kapan Saya Harus Melakukan Tes PCR COVID-19?

Anda dapat melakukan tes PCR kapan saja, terutama saat Anda mengalami gejala, meliputi:

  • demam 37oc atau lebih tinggi
  • batuk
  • ruam kulit
  • anosmia
  • diare
  • kelelahan
  • nyeri otot 
  • sakit kepala
  • sakit tenggorokan
  • mual atau muntah
  • hidung tersumbat atau pilek
  • sesak napas atau kesulitan bernapas
  • tubuh kedinginan atau menggigil.

Selain itu, tes PCR juga dapat dilakukan bagi Anda yang melakukan aktivitas di luar rumah, dengan:

  • melakukan kontak dekat dengan penderita COVID-19
  • ketika Anda menghadiri pertemuan sosial besar atau berada di tempat yang berisiko tinggi untuk penularan virus
  • ketika Anda tinggal atau bekerja di tempat di mana banyak orang tinggal bersama seperti panti jompo, kos-kosan, tempat penampungan tunawisma, atau fasilitas masyarakat lainnya.
  • saat Anda membutuhkan bukti tes negatif untuk bepergian, bekerja, atau melakukan aktivitas lain
  • saat Anda merasakan gejala COVID-19.

Tidak semua orang dengan COVID-19 mengalami gejala (OTG) dan tidak semua orang yang bergejala terinfeksi virus corona. Oleh karena itu, sebaiknya Anda melakukan pemeriksaan ke dokter, terutama jika Anda belum menerima vaksin COVID. 

Proses Pemeriksaan Swab Test PCR

  • Pengambilan sampel

Pihak tenaga medis menggunakan swab untuk mengumpulkan sampel dari hidung Anda. Di ujung alat swab terdapat gumpalan kapas yang lembut. Alat ini nanti akan dimasukan ke lubang hidung hingga nasofaring. Setelah itu, sampel dimasukan ke dalam tabung dan kemudian dikirim ke laboratorium.

  • Ekstraksi

Sampel yang sudah diambil kemudian diekstrak untuk menemukan DNA virus. Sinyal fluoresensi dibutuhkan dalam pemeriksaan ini untuk mengidentifikasi materi genetic virus. Namun, Coronavirus (SARS-Cov-2) hanya mengandung RNA saja. Oleh karena itu, RNA ini harus dikonversikan dengan enzim reverse transcriptase agar terdeteksi DNA virus. 

  • PCR

Langkah PCR kemudian dilakukan dengan menggunakan bahan kimia, enzim khusus, dan mesin PCR yang disebut thermal cycler. Jika berdasarkan pemeriksaan ditemukan materi genetik virus SARS-CoV-2, salah satu bahan kimia akan menghasilkan lampu neon. Selanjutnya, hasil analisis ini diolah dalam data komputer untuk menafsirkan sinyal sebagai hasil tes positif.

CT Value Swab Test PCR

Pemeriksaan swab test PCR dapat mendeteksi keberadaan materi genetic (DNA dan RNA) dari organisme seperti bakteri, virus, atau sel tertentu, termasuk virus Corona. Untuk mendeteksi COVID, tes PCR menggunakan mesin pemeriksa dengan amplifikasi (pemeriksaan berulang) untuk memastikan apakah sampel mengandung materi genetik virus Corona atau tidak. 

Satu siklus amplifikasi ini disebut CT value (cycle threshold value). Singkatnya, nilai CT value merupakan ambang batas siklus. masing-masing laboratorium menggunakan batas ambang (CT value) yang berbeda, namun biasanya berkisar antara 35−45 kali dengan CT value 35–45.

Cara Membaca Angka CT Value

Hasil tes PCR dinyatakan negatif jika CT valuenya melebihi 40, namun hal ini kembali pada masing-masing laboratorium. Nilai ini berarti dalam sampel yang diperiksa 40 kali pengulangan amplifikasi PCR, tidak ditemukan materi genetik dari virus  SARS-CoV-​2. Penjelasan lebih lanjut mengenai CT value adalah sebagai berikut. 

  • Jika nilai CT value di bawah <29 menunjukkan reaksi positif yang berarti jumlah materi genetik virus dalam tubuh masih tinggi. 
  • Jika nilai CT value 30–37 berarti Anda positif terinfeksi virus corona dengan jumlah partikel virus sedang.
  • Jika nilai CT value 38–40 berarti Anda positif COVID dengan jumlah partikel virus yang rendah atau sedikit. Hal ini menunjukkan bahwa Anda bisa jadi dalam masa akhir inkubasi virus.
  • Jika nilai CT value lebih dari 40 berarti Anda tidak terinfeksi virus corona (negatif).

Catatan SehatQ

Jika hasil menunjukkan positif, segera minta bantuan dengan tenaga medis. Pada penderita COVID yang tidak memiliki penyakit penyerta (komorbid) dapat melakukan isolasi mandiri dan tetap menerapkan pola hidup sehat. Namun, jika Anda memiliki riwayat penyakit tertentu (komorbid) segera mencari bantuan medis agar mendapatkan perawatan intensif.

Ketahui Tindakan Fisioterapi untuk Layanan Home Care

Fisioterapi adalah salah satu tindakan yang termasuk layanan dari home care, yang berfungsi untuk membantu memulihkan gerakan dan fungsi tubuh pasien yang terkena cedera, penyakit, atau kecacatan.

Fisioterapi dapat membantu pasien dari segala usia yang mengalami berbagai kondisi gangguan kesehatan, seperti:

  • gangguan pada tulang, persendian, dan jaringan lunak seperti nyeri punggung, nyeri leher, nyeri bahu, dan cedera olahraga.
  • gangguan otak atau sistem saraf, seperti masalah gerakan akibat terkena stroke, multiple sclerosis (MS) atau penyakit Parkinson
  • masalah pada jantung, seperti untuk melakukan rehabilitasi usai mengalami serangan jantung
  • masalah paru-paru dan pernapasan, seperti penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan cystic fibrosis.
Layanan home care di masa pandemi perlu cara yang lebih kreatif

Layanan Fisioterapi

Fisioterapi dapat dilakukan oleh para praktisi terlatih dan diatur secara khusus, yang sering disebut sebagai fisioterapis. 

Beberapa fisioterapis juga dapat menawarkan melakukan kunjungan ke rumah atau memberikan layanan home care. Layanan fisioterapi juga dapat membantu orang lanjut usia yang memiliki berbagai masalah, dengan tujuan agar pasien dapat melakukan aktivitas sehari-hari. Selain itu, fisioterapis juga dapat dimasukkan sebagai bagian dari tim perawatan kesehatan yang dapat bekerja bersama dokter, dokter spesialis, ahli diet, ahli fisiologi olahraga, ahli gizi atau psikolog. 

Cara Kerja Fisioterapis

Seorang fisioterapis dapat bekerja dengan pasien untuk mengembangkan metode khusus yang dirancang untuk memulihkan sebanyak mungkin kemampuan fungsional dan gerakan pasien. Para fisioterapis juga dilatih untuk membantu pasien dari bayi hingga orang lanjut usia, yang memiliki gangguan kesehatan atau ada masalah pada anggota gerak yang dipengaruhi oleh:

  • penyakit
  • kondisi kesehatan
  • cedera
  • faktor lingkungan
  • penuaan
  • masalah berat badan.

Fisioterapis dapat melakukan tugasnya dengan menggunakan berbagai metode termasuk:

  • meminta pasien melakukan latihan tertentu
  • memijat otot
  • menggunakan perangkat stimulasi otot
  • memanipulasi sendi
  • mengajarkan aktivitas atau gaya hidup tertentu seperti cara berjalan dan menata postur tubuh yang baik
  • peregangan otot.

Fisioterapis dapat mengambil pendekatan secara holistik untuk menangani gangguan kesehatan, tidak hanya soal aspek fisik, tetapi juga kesehatan emosional, psikologis, dan sosial pasien. Fisioterapis termasuk yang memberikan layanan home care, akan bekerja di semua tahap perawatan kesehatan, termasuk pencegahan gangguan kesehatan, pelatihan, rehabilitasi, dan pengobatan.

Manfaat Mendapatkan Layanan Fisioterapi

Saat Anda memiliki janji bersama dengan fisioterapis, Anda akan diminta untuk menggunakan pakaian yang nyaman, pakaian yang longgar, dan sepatu dengan penyangga yang baik seperti sepatu untuk olahraga. Hal itu karena pasien pada umumnya akan diminta untuk melakukan beberapa gerakan fisik.

Pada pertemuan pertama, fisioterapis akan meninjau catatan dan riwayat medis dari pasien. Selain itu, fisioterapis juga bisa memeriksa kondisi kesehatan pasien melalui hasil dari sinar-X dan tes lain. Fisioterapis mungkin akan mengajukan beberapa pertanyaan yang penting mengenai riwayat kesehatan, gaya hirup, dan penyakit yang sedang dialami. Pasien perlu benar-benar jujur mengenai kondisi yang sedang dialami.

Pasien mungkin akan diminta untuk melakukan aktivitas seperti berjalan, membungkuk, dan tugas sederhana lainnya yang memungkinkan fisioterapis untuk menilai kemampuan dan keterbatasan fisik pasien. Fisioterapis kemudian akan mendiskusikan program terapi fisik yang disesuaikan dengan kondisi pasien.

Pada janji tindak lanjut, pasien biasanya akan melakukan latihan atau gerakan tertentu yang akan diminta untuk pasien lakukan. Aktivitas yang pasien lakukan selama fisioterapi adalah bagian dari program yang mereka buat yang berguna membantu pasien untuk mencapai tujuan kesehatan dan pemulihan. 

Fisioterapi juga bisa dilakukan di rumah, dengan menggunakan layanan home care. Untuk layanan fisioterapi yang dilakukan untuk layanan home care, maka pasien bisa berdiskusi kepada dokter mengenai apa saja pengobatan yang dilakukan dan apa yang bisa dikerjakan di rumah. Dengan mengakses layanan fisioterapi secara home care, maka pasien yang kondisinya tidak memungkinkan, bisa tetap mendapatkan pengobatan di rumah.

Melakukan Test Rapid Antigen, Perlu atau Tidak?

test rapid antigen

Test Rapid Antigen adalah salah satu cara paling efektif untuk mendeteksi keberadaan virus Covid-19. Anda bisa tahu apakah Anda terinfeksi atau tidak dengan melakukan tes tersebut. 

Meskipun, apabila dibandingkan dengan tes berupa swab PCR, akurasi dari tes antigen kurang maksimal. Namun, hasil dari test antigen tetap lebih baik apabila dibandingkan dengan rapid test antibodi saja. 

Mengapa perlu melakukan Test Rapid Antigen?

Ada beberapa alasan yang membuat Anda perlu melakukan pemeriksaan dengan tes antigen. Berikut ini alasan-alasan tersebut: 

  • Mendeteksi infeksi Covid-19

Tujuan utama melakukan tes antigen adalah mengetahui apakah Anda terinfeksi oleh virus Covid-19 atau tidak. Tes ini memiliki fungsi utama guna menentukan langkah pengobatan atau pencegahan terhadap gejala Covid-19.

  • Melakukan pengobatan dengan lebih cepat

Prosedur test antigen tergolong cukup cepat. Waktu yang dibutuhkan untuk menanti hasilnya pun juga singkat. Dengan begitu, Anda bisa mengetahui apakah Anda terinfeksi atau tidak dengan lebih cepat, serta melakukan upaya pengobatan sedini mungkin.

Anda hanya perlu menunggu selama kurang lebih 15-30 menit untuk mengetahui hasil dari tes antigen. Durasi ini hampir serupa dengan pemeriksaan rapid test antibodi yang menggunakan sampel dari darah.

  • Mendeteksi infeksi virus pernapasan lainnya

Selain virus corona, tes antigen juga bisa dilakukan untuk prosedur pemeriksaan lainnya. Misalnya seperti pemeriksaan untuk mendiagnosa patogen pernapasan, contohnya seperti virus influenza dan respiratory syncytial virus (RSV). 

Jadi, bisa dibilang, manfaat dari Test Rapid Antigen bukan sekedar untuk mengetahui infeksi Covid-19, tetapi juga kondisi pernapasan lainnya yang disebabkan oleh infeksi virus. 

Siapa yang perlu melakukan Test Rapid Antigen?

Tes ini dianjurkan bagi Anda yang masuk ke dalam golongan faktor risiko tertentu. Orang dalam golongan faktor risiko ini biasanya lebih rentan terpapar oleh virus Covid-19. Mereka adalah:

  • Pasien rawat inap

Pasien yang akan atau sedang menjalani rawat inap di rumah sakit biasanya diminta untuk menjalani prosedur tes antigen. Ini dilakukan guna mengetahui apakah pasien terpapar oleh Covid-19 atau tidak.

Karena, selama menjalani perawatan di rumah sakit, pasien akan lebih berpotensi terpapar oleh virus, dibandingkan dengan perawatan mandiri di rumah.

  • Lansia

Gejala Covid-19 lebih mudah muncul pada lansia. Biasanya, gejala ini juga bisa menjadi lebih parah, lebih sulit untuk ditangani, serta lebih berbahaya. 

Oleh sebab itu, lansia yang terpapar oleh virus Covid-19 perlu ditangani sedini mungkin. Untuk melakukan hal itu, diperlukan Test Rapid Antigen guna mendeteksi keberadaan virus. 

  • Orang tanpa gejala

Orang tanpa gejala juga dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan dengan tes antigen. Meskipun tidak merasakan gejala, bisa saja mereka menjadi carrier atau pembawa virus yang bisa menularkannya ke orang lain.

Secara khusus, pemeriksaan ini direkomendasikan bagi orang tanpa gejala yang melakukan kontak dengan penderita Covid-19 selama 7 hari terakhir. Misalnya seperti para petugas kesehatan. 

  • Tenaga medis

Para tenaga medis juga dianjurkan untuk melakukan tes antigen. Karena, mereka adalah orang-orang di garda terdepan yang paling banyak berinteraksi dengan penderita Covid-19.

Tapi, bukan hanya tenaga medis, orang-orang yang pekerjaannya mengharuskan untuk berinteraksi dengan banya orang juga dianjurkan untuk melakukan tes ini. Misalnya seperti polisi, pekerja di kendaraan umum, pengemudi ojek online, dan lain sebagainya.

Apabila Anda merasa termasuk ke dalam golongan-golongan di atas, maka lakukan Test Rapid Antigen sesegera mungkin.