Swab Antigen C19 Bisakah Diandalkan?

Swab Antigen C19

Pada saat sebelum Mike DeWine, gubernur Ohio, bertemu dengan mantan Presiden Trump di bandara Cleveland, DeWine mendapatkan tes swab antigen C19 dengan hasil yang positif memiliki SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit COVID-19. Namun, tes lanjutan, menggunakan reaksi rantai polimerase yang lebih akurat, atau dikenal dengan tes PCR, DeWine ternyata tidak memiliki virus ini. Hasil positif palsu swab antigen c19 ini bukanlah insiden satu-satunya yang terjadi. Puluhan orang yang mendapatkan tes rapid SARS-CoV-2 dari perusahaan biotech Quidel di Manchester, Vermont, klinik diberitahu bahwa mereka memiliki virus corona. Namun, tes PCR yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan menemukan bahwa hanya 4 dari 65 orang tersebut yang dites benar-benar positif. 

Dengan orang-orang di seluruh Amerika Serikat kembali ke sekolah atau tempat kerja, perusahaan dan universitas mulai beralih menggunakan tes rapid dari swab antigen c19 sebagai cara untuk mengidentifikasi apakah seseorang memiliki virus tersebut. Akan tetapi, tidak ada satu tes pun yang benar-benar bisa memberikan hasil sangat akurat, yang berarti dalam beberapa kasus akan ada hasil negatif palsu (false negative) dan beberapa orang akan diberitahu bahwa mereka memiliki virus tersebut meskipun faktanya mereka tidak memilikinya sama sekali (false positive). Hal ini tentunya dapat menyebabkan kebingungan, terutama jika orang-orang tidak menyadari tes jenis apa yang telah mereka dapatkan dan lakukan. Namun, beberapa ahli menyatakan bahwa tes yang dilakukan di banyak daerah, meskipun kurang akurat, masih dapat membantu menekan laju pandemi COVID-19 di Amerika Serikat. 

Jenis tes coronavirus

Ada tiga jenis tes coronavirus, yaitu:

  • Tes genetik

Tes ini bertujuan untuk mencari RNA virus di swab tenggorokan dan hidung, atau pada sampel air liur. Tipe yang paling sering dijumpai adalah tes polymerase chain reaction (PCR). 

  • Tes antigen

Swab antigen c19 mencari protein khusus yang ada di permukaan virus

  • Tes antibodi

Ini merupakan sebuah tes darah yang mencari tanda-tanda bahwa seseorang memiliki infeksi virus dan memiliki respon kekebalan. Tes ini tidak digunakan untuk mendiagnosis infeksi yang aktif. 

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menganggap tes PCR sebagai “standar emas” pengujian SARS-CoV-2. Tes ini dilakukan di laboratorium rumah sakit, universitas, dan agensi kesehatan publik. Beberapa laboratorium dapat memproses sampel hanya dalam waktu 1 hari saja, namun terkadang membutuhkan waktu lebih lama, dengan beberapa orang perlu menunggu selama satu minggu atau lebih untuk mengetahui apakah hasil tes mereka positif atau tidak. 

Swab antigen c19 dapat dilakukan dengan lebih cepat, dengan hasil sudah bisa diambil dalam waktu 15 menit saja, menggunakan swab air liur atau hidung. Sama seperti tes PCR, tes antigen akan menunjukkan apakah seseorang memiliki infeksi aktif atau tidak. Meskipun tes antigen lebih cepat dan jumlah tes yang sedang dilakukan dapat dengan mudah dinaikkan, tes jenis ini memiliki angka negatif palsu yang cukup tinggi, dengan sekitar setengah dari hasil negatif menunjukkan ketidakakuratan. 

Oleh karena itu, Departemen Kesehatan Vermont menghitung tes antigen positif sebagai kasus positif apabila tes PCR menyatakan hal yang sama. Negara Bagian lain di Amerika Serikat memiliki prosedur serupa. Meskipun demikian, tes PCR tidak selamanya akurat. Beberapa studi telah menemukan bahwa sekitar 29 persen dari tes PCR dapat memberikan hasil negatif palsu. Tingkat keakuratan kedua tes tersebut, tes PCR dan swab antigen c19, bervariasi tergantung tes dan produsen tes tersebut.

Tanya Dokter Saraf Jika Menderita Gejala Stroke Ini

Stroke terjadi ketika pembuluh darah di otak pecah dan berdarah, atau ketika ada penyumbatan pasokan darah ke otak. Pecahnya pembuluh darah atau penyumbatan tersebut mencegah oksigen dan darah untuk sampai ke jaringan otak. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), stroke merupakan penyebab kematian kelima terbanyak di Amerika Serikat. Setiap tahunnya, lebih dari 795 ribu orang di Amerika Serikat menderita stroke. Tanpa oksigen, sel-sel dan jaringan otak menjadi rusak dan mulai mati hanya dalam hitungan menit saja. Artikel ini akan membahas gejala apa saja yang dirasakan saat seseorang menderita stroke, sehingga Anda bisa waspada untuk kemudian tanya dokter saraf secepatnya apabila gejala tersebut terjadi. 

Gejala stroke

Hilangnya aliran darah ke otak dapat merusak jaringan di dalam otak. Gejala stroke akan terlihat pada bagian tubuh yang dikontrol oleh daerah otak yang rusak. Semakin cepat seseorang mendapatkan perawatan saat menderita stroke, semakin baik kemungkinannya untuk sembuh. Oleh karena itu, sangat bermanfaat bagi seseorang untuk mengetahui tanda-tanda dan gejala stroke, sehingga ia dapat bertindak dengan cepat dan konsultasi serta tanya dokter saraf dengan segera. Beberapa gejala stroke di antaranya adalah lumpuh; mati rasa atau kelemahan di wajah, tangan dan kaki, terutama hanya pada satu bagian tubuh saja; kesulitan berbicara atau memahami pembicaraan; bingung; gangguan penglihatan, seperti kesulitan melihat menggunakan satu mata atau keduanya dengan pandangan yang menghitam atau kabur serta penglihatan ganda; kesulitan berjalan; hilangnya keseimbangan atau koordinasi; pusing; dan sakit kepala tiba-tiba dan parah tanpa adanya sebab yang jelas. Stroke membutuhkan perawatan medis yang segera. Jika Anda berpikir Anda atau orang lain menderita stroke, hubungi dokter segera. Perawatan yang cepat kunci penting dalam mencegah kerusakan otak, cacat jangka panjang, dan bahkan kematian. 

  • Gejala stroke pada wanita

Stroke merupakan penyebab kematian wanita nomor 4 terbanyak di Amerika Serikat. Wanita memiliki risiko lebih tinggi seumur hidup dalam menderita stroke dibandingkan dengan pria. Meskipun beberapa tanda dan gejala stroke sama antara wanita dan pria, beberapa di antaranya lebih sering dijumpai terjadi pada wanita. Tanda-tanda stroke yang sering menimpa wanita di antaranya adalah mual atau muntah, halusinasi, nyeri, kelemahan, sesak napas atau kesulitan bernapas, pingsan atau hilangnya kesadaran, kejang, bingung, dan perubahan perilaku yang tiba-tiba, terutama mudah gelisah. Selain itu, wanita juga memiliki kemungkinan lebih tinggi dalam menderita akibat stroke dibandingkan dengan pria. Sehingga, sangat penting untuk dapat mengidentifikasi stroke secepat mungkin. 

  • Gejala stroke pada pria

Stroke merupakan penyebab kematian pria nomor 5 terbanyak.Pria berisiko menderita stroke pada usia muda dibandingkan dengan wanita, namun memiliki risiko kecil untuk meninggal karenanya. Baik pria dan wanita dapat memiliki gejala stroke yang sama. Akan tetapi, beberapa gejala stroke lebih sering menimpa pria, seperti satu sisi wajah yang turun atau senyum tidak rata, sulit berbicara atau sukar memahami suatu percakapan, dan kelemahan otot pada satu sisi tubuh. 

Apabila Anda mencurigai diri Anda atau orang lain menderita gejala stroke tersebut di atas, sangat penting untuk mencari perawatan medis secepatnya dan tanya dokter saraf seputar kondisi yang Anda alami. Obat-obatan pemecah gumpalan hanya dapat digunakan pada jam-jam pertama setelah tanda-tanda stroke berawal, dan perawatan dini merupakan cara paling efektif dalam mengurangi risiko komplikasi jangka panjang dan cacat permanen.

Mengenal Rhabdomyosarcoma, Sebuah Sarkoma Jaringan Lunak

Sarkoma adalah sejenis kanker yang tumbuh dan berkembang di dalam tulang atau jaringan lunak, seperti pembuluh darah, saraf, tendon, otot, lemak, jaringan fibrosis, lapisan bawah kulit (bukan lapisan luar), dan lapisan persendian. Beberapa jenis pertumbuhan tidak normal dapat terjadi di jaringan lunak, seperti rhabdomyosarcoma. Apabila sebuah pertumbuhan merupakan sarkoma, maka dapat berupa tumor ganas atau kanker. Ganas berarti beberapa bagian tumor dapat pecah dan menyebar ke jaringan di sekitarnya. Sel-sel yang lolos tersebut dapat bergerak ke seluruh tubuh dan bersarang di hati, paru-paru, otak, dan organ tubuh penting lainnya. 

Sarkoma jaringan lunak seperti rhabdomyosarcoma merupakan sebuah kondisi yang relatif jarang dijumpai, terutama apabila dibandingkan dengan carcinoma, sebuah jenis tumor ganas lainnya. Sarkoma dapat bersifat mengancam nyawa, terutama apabila kondisi ini didiagnosa ketika tumor sudah berukuran besar dan telah menyebar ke jaringan lain. Sarkoma jaringan lunak paling sering ditemukan di lengan atau kaki, namun juga dapat ditemukan di organ dalam, kepala dan leher, dan bagian belakang rongga perut. Ada banyak jenis sarkoma jaringan lunak, dengan sarkoma dikategorikan berdasarkan jaringan di mana ia tumbuh, seperti tumor ganas di lemak dikenal dengan sebutan liposarcoma; di otot halus di sekitar organ dalam disebut leiomyosarcoma; rhabdomyosarcoma merupakan tumor ganas di otot rangka yang terletak di tangan, kaki, dan daerah lain tubuh; dan gastrointestinal stromal tumor merupakan tumor. Ganas yang terdapat di saluran pencernaan atau saluran gastrointestinal. Meskipun dapat terjadi pada orang dewasa, rhabdomyosarcoma merupakan sarkoma jaringan lunak yang paling umum dijumpai pada anak dan remaja. Sarkoma jaringan lunak lain yang jarang ditemui adalah neurofibrosarcoma, neurogenic sarcoma, angiosarcoma, malignant schwannoma, synovial sarcoma, fibrosarcoma, epithelioid sarcoma, malignant mesecnchymoma, dan lain-lain. 

Gejala dan penyebab

Pada tahap perkembangannya, sarkoma jaringan lunak tidak menunjukkan gejala apapun. Benjolan yang tidak menimbulkan nyeri saat disentuh atau adanya masa di bawah kulit di tangan dan kaki dapat menjadi tanda pertama adanya sarkoma jaringan lunak. Apabila sarkoma jaringan lunak tumbuh di lambung, ada kemungkinan hal ini tidak diketahui hingga sarkoma berukuran sangat besar dan menekan struktur organ lainnya. Anda dapat merasa nyeri atau kesulitan bernapas akibat tumor yang mendorong paru-paru. Gejala lain yang dapat terjadi adalah penyumbatan usus. Hal ini dapat terjadi apabila tumor jaringan lunak tumbuh di lambung. Tumor mendorong terlalu keras melawan usus dan mencegah makanan bergerak dengan mudah. Gejala lain di antaranya adalah darah pada kotoran atau muntahan dan kotoran yang berwarna hitam. 

Biasanya, gejala sarkoma jaringan lunak tidak dapat diidentifikasi, kecuali sarkoma Kaposi, yang mana merupakan kanker di lapisan pembuluh darah. Kanker ini menyebabkan lesi berwarna coklat atau ungu di kulit, dan disebabkan karena infeksi virus herpes 8 manusia (HHV-8) dan sering terjadi pada orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang berkurang, seperti mereka yang menderita HIV. Sarkoma jaringan lunak seperti rhabdomyosarcoma memiliki beragam faktor risiko, seperti genetik dan paparan terhadap racun serta radiasi. Beberapa mutasi DNA atau cacat bawaan dapat membuat Anda rentan menderita sarkoma jaringan lunak, seperti basal cell nevus syndrome, retinoblastoma bawaan, sindrom Li-Fraumeni, sindrom Gardner, neurofibromatosis, tuberous sclerosis, dan sindrom Werner. Sementara itu, paparan terhadap racun seperti dioxin, arsenic, vinyl chloride, dan herbisida yang mengandung asam phenoxyacetic dalam dosis tinggi dapat meningkatkan risiko Anda menderita sarkoma jaringan lunak.

Bedah Perbedaan Asma dan PPOK dari Gejala

Penyakit paru-paru banyak jenisnya. Di antara berbagai jenis penyakit paru-paru, asma dan PPOK merupakan kondisi masalah pernapasan yang kerap ditemui dan dipersandingkan karena memiliki kesamaan dari segi pemicu. Meskipun demikian, kenyataannya perbedaaan asma dan PPOK lebih banyak lagi. 

Perbedaan asma dan PPOK dapat dilihat dari pemicu masalah pernapasan ini. Asma lebih mudah terjadi apabila seseorang menghirup debu ataupun mengalami stres. Sementara itu, gejala pada penderita PPOK kerap datang kapan saja secara konstan, namun akan memburuk apabila menerima paparan asap, khususnya yang berasal dari rokok. 

Selain dari pemicu, perbedaan asma dan PPOK sebenarnya lebih tampak jelas dari gejala yang ditimbulkan. Selain sama-sama mengalami sesak napas, nyatanya banyak gejala lain yang berbeda dari kedua masalah pernapasan ini. 

Gejala Asma 

Gejala asma setiap orang tidaklah sama. Selain sesak napas, berikut ini adalah beberapa gejala lain yang muncul mengawali gejala sesak napas pada penderita asma. 

  1. Mengi 

Penderita asma kerap mengeluarkan bunyi seperti siulan saat bernapas. Kondisi ini dikenal dengan istilah mengi. Umumnya, gejala mengi timbul pada penderita asma yang masih berusia kanak-kanak. 

  1. Kesulitan Tidur 

Orang-orang yang menderita asma cenderung kerap mengalami gangguan tidur. Penderita asma akan sulit tidur pada malam hari karena ketika berbaring, napas mereka akan lebih sulit. 

  1. Batuk 

Gejala lain dari asma adalah munculnya kondisi batuk pada penderitanya. Batuk pada penderita asma lebih sering terjadi pada malam hari. Batuk juga akan semakin parah apabila kondisi dingin. 

  1. Mudah Lelah 

Penderita asma akan lebih mudah merasa lelah karena saluran pernapasannya mengalami penyempitan. Rasa lelah akan semakin kuat setiap kali sehabis berolahraga. Serangan asma berupa sesak napas bahkan umum terjadi pasca penderita berolahraga atau beraktivitas fisik berat. 

  1. Bersin-bersin 

Bersin-bersin bukan hanya petanda Anda terkena gejala flu. Faktanya, bersin-bersin juga merupakan gejala asma yang muncul apabila serangan asma akan terjadi. 

Umumnya gejala asma tidak akan membuat penderitanya mengalami kondisi darurat. Bantuan oksigen dapat segera menghilangkan gejala sesak napas saat serangan asma terjadi. 

Gejala PPOK 

Perbedaan asma dan PPOK sangat mudah dilihat dari gejala selain sesak napas. Pasalnya, gejala yang mengarah ke bagian dada dan pernapasan akan lebih sering timbul pada penderita PPOK. Berikut ini adalah gejala-gejala yang kerap dialami penderita penyakit paru-paru kronis ini. 

  1. Napas Pendek 

Masalah pernapasan pada penderita PPOK akan mudah terlihat dari napasnya sehari-hari. Penderita PPOK memiliki napas yang pendek-pendek sehingga terlihat sedang kelelahan. Napas yang pendek ini bahkan terjadi ketika penderita sedang bersantai. 

  1. Batuk Berdahak

Penderita PPOK juga mengalami gejala batuk. Perbedaan asma dan PPOK dari gejala batuk ini dapat terlihat dari waktunya. Penderita PPOK rentan mengalami batuk kapan saja. Batuk dari penderita PPOK merupakan jenis batuk berdahak. 

  1. Nyeri Dada

Gejala PPOK yang satu ini kerap disangkutpautkan dengan gejala penyakit jantung. Padahal nyeri dada yang dialami oleh penderita PPOK lebih mengarah ke seluruh bagian dada.

  1. Pembengkakan Kaki 

Penderita PPOK akan lebih mudah ditandai. Pasalnya, banyaknya cairan di paru-paru akan membuat kaki membengkak. Pembengkakan pada penderita PPOK bisa dilihat di bagian pergelangan dan tungkai kaki. 

  1. Penurunan Berat Badan 

Jika diperhatikan dengan saksama, penderita PPOK yang sudah lama memiliki badan yang kurus. Ini karena PPOK rentan menimbulkan penurunan berat badan pada penderitanya. 

*** 

Sudah tidak pusing bukan perbedaan asma dan PPOK? Apapun gejalanya, lebih baik Anda segera berkonsultasi ke dokter apabila mengalaminya.

6 Penyakit yang Mesti Mendapat Rehabilitasi Medik

Rehabilitasi medik merupakan terapi yang ditujukan untuk mengembalikan fungsi tubuh yang mengalami masalah sehingga tidak mampu berfungsi dan bergerak sebagaimana mestinya. Dengan rehabilitasi medik, rasa sakit bisa dikurangi sekaligus pergerakan tubuh menjadi lebih ringan. 

Umumnya, rehabilitasi yang diarahkan pada fisik ini akan disarankan pada pasien-pasien yang baru mengalami cedera akibat kecelakaan ataupun terjatuh. Namun sebenarnya, rehabilitasi medik juga dianjurkan pada pasien-pasien dengan penyakit tertentu. 

Jika Anda memiliki salah satu dari enam penyakit di bawah ini, sebaiknya Anda mendatangi dokter rehabilitasi medik. Sebab besar kemungkinan, Anda mengalami perubahan postur tubuh dan cedera otot maupun saraf karena penyakit-penyakit ini. 

  1. Cacat Lahir 

Banyak kecacatan lahir yang membuat seorang bayi tidak dapat tumbuh dan bergerak dengan sempurna. Banyak dari kecacatan tersebut yang tidak bisa sembuh secara sempurna. Namun, kualitas hidup penderitanya dapat ditingkatkan dengan memperbaiki fungsi tubuh seoptimal mungkin lewat rehabilitasi medik. Dengan rehabilitasi, koordinasi tubuh, kekuatan otot, sampai keseimbangan dari sang pasien bisa ditingkatkan hingga batas maksimal. 

  1. Radang Sendi 

Dalam dunia medis, kondisi ini kerap disebut sebagai artritis. Ini merupakan kondisi ketika satu atau beberapa sendi Anda mengalami peradangan sehingga menjadi sulit untuk digerakkan. Radang sendiri bisa disebabkan oleh berbagai hal. Pertambahan usia, kecelakaan, hingga kadar asam urat yang tinggi dapat membuat Anda terjebak dalam penyakit ini. Rehabilitasi medik membantu menyembuhkan Anda dari radang sendiri. Lewat rehabilitasi, peradangan di tubuh Anda bisa ditekan hingga sembuh lebih cepat. 

  1. Stroke 

Stroke merupakan kondisi ketika pembuluh darah di otak mengalami kebocoran bahkan sampai pada kondisi pecah. Jika terlambat ditangani, stroke bisa mengakibatkan kematian. Ketika cepat ditangani, nyawa Anda bisa selamat, meskipun akan banyak bagian tubuh yang mengalami disfungsi. Untuk memulihkannya, Anda memerlukan rehabilitasi medik khusus secara berkala dan teratur. Konsultasikan segera rehabilitasi medis kepada dokter Anda agar tingkat keparahan disfungsi tidak terus berlanjut. 

  1. Parkinson 

Parkinson merupakan jenis penyakit saraf yang membuat penderitanya kesulitan mengoordinasi gerakan tubuh. Awalnya gejala pada penderita parkinson terkesan ringan dan tidak terlalu mengganggu aktivitas, seperti hanya tangan yang gemetar. Namun jika dibiarkan tanpa penanganan, parkinson yang dialami bisa terus memburuk dan membuat penderitanya bahkan tidak bisa sekadar berdiri serta mengalami halusinasi. Untuk mencegah perburukan pada pasien parkinson, dokter pun kerap menyarankan dilakukan rehabilitasi medik yang bertujuan untuk membantu koordinasi antar bagian tubuh. 

  1. Multiple Sclerosis 

Salah satu penyakit autoimun yang banyak terjadi adalah multiple sclerosis. Ini merupakan kondisi saat sistem kekebalan tubuh manusia justru menyerang lapisan lemak dan serabut saraf sehingga menyebabkan gangguan pada fungsi otak, mata, juga tulang belakang. Rehabilitasi medik sangat diperlukan oleh penderita multiple sclerosis. Pasalnya jika tidak dilakukan rehabilitasi, kerusakan saraf pada penderita penyakit yang berhubungan dengan kekebalan tubuh ini bisa mengakibatkan kerusakan saraf yang permanen. 

  1. Kanker 

Penanganan apa yang Anda pikirkan untuk pasien kanker? Menjalani kemoterapi, radiasi, serta obat-obatan oral menjadi barang wajib bagi penderita kanker. Tujuannya guna membunuh dan menghentikan perkembangbiakan sel jahat yang membuat penyakit tersebut. Namun meskipun sudah sembuh, penderita kanker kemungkinan akan mengalami gangguan fungsi tubuh, tidak terkecuali anggota gerak. Karena alasan inilah, pasien-pasien kanker sering disarankan untuk menjalani rehabilitasi medik oleh tim dokter. 

*** 

Sadari penyakit Anda sedari dini dan tanyakan kepada dokter apa perlu dilakukan rehabilitasi medik untuk mempercepat pemulihannya. Jika memang diperlukan, jangan ragu untuk menjalaninya dengan didampingi para ahli, ya.

Tonsillitis Difteri, Sumbatan Jalan Napas Atas yang perlu Anda Waspadai!

Difteri merupakan penyakit infeksi menular yang terutama menyerang saluran pernapasan bagian atas (difteri pernapasan). Tonsilitis difteri merupakan infeksi serius yang disebabkan oleh bakteri yang disebut Corynebacterium diphtheriae yang memuat toksin atau racun. 

Nah, racun inilah yang dapat menyebabkan orang menjadi sangat sakit. Bakteri difteria biasanya menyebar dari orang ke orang melalui tetesan pernapasan, seperti batuk atau bersin. Orang lain juga bisa sakit jika menyetuh luka terbuka atau bisul yang terinfeksi. Karena sifatnya yang dapat menyumbat jalan napas atas, tentu Anda perlu wasapada terhadap penyakit ini. Berikut beberapa penjelasan lengkapnya. 

Gejala tonsillitis difteri

Gejala utama yang bisa terjadi adalah amandel yang meradang atau bengkak, dan terkadang cukup parah hingga membuat seseorang sulit bernapas melalui mulut. Gejalanya termasuk:

  • Sakit atau nyeri tenggorokan
  • Demam
  • Amandel merah
  • Lapisan putih atau kuning pada amandel Anda
  • Lepuh atau borok yang menyakitkan di tenggorokan Anda
  • Sakit kepala
  • Kehilangan selera makan
  • Sakit telinga
  • Kesulitan menelan
  • Kelenjar bengkak di leher atau rahang
  • Menggigil
  • Bau mulut
  • Suara serak atau teredam
  • Leher kaku

Gejala pada anak, mungkin termasuk:

  • Sakit perut 
  • Muntah
  • Ngiler
  • Tidak mau makan atau menelan

Komplikasi tonsilitis difteri

Komplikasi dari difteri pernapasan (ketika bakteri menginfeksi bagian tubuh yang terlibat dalam pernapasan) mungkin termasuk:

  • Penyumbatan jalan napas 
  • Kerusakan jaringan otot jantung (miokarditis)
  • Kerusakan saraf (polineuropati)
  • Kehilangan kemampuan untuk bergerak (kelumpuhan)
  • Gagal ginjal

Bagi sebagian orang, tonsillitis difteri ini dapat menyebabkan kematian. Bahkan dengan pengobatan, 1 dari 10 pasien bisa meninggal. 

Pencegahan

  • Vaksinasi. Cara terbaik untuk mencegah penyakit ini adalah dengan melakukan vaksinasi. Di Amerika Serikat ada empat vaksin yang digunakan untuk mencegah difteri, DTaP, Tdap, DT, dan Td. Masing-masing vaksin ini mencegah difteri dan tetanus. DTaP dan Tdap juga dpat membantu mencegah pertusis (batuk rejan). 
  • Antibiotik. CDC menganjurkan agar kontak dekat dari penderita menerima antibiotik untuk mencegah mereka jatuh sakit. Para ahli menyebutkan ini profilaksis. Ini penting bagi penderita difteri yang menginfeksi sistem pernapasan (bagian tubuh yang terlibat dalam pernapasan) dan kulit. 

Segera cari pertolongan medis

Seperti yang telah disebutkan di atas, gejala awal tonsillitis dofteri mirip dengan infeksi saluran pernapasan atas akibat virus (flu). Namun, ada gejala dan kondisi tertentu yang memerlukan kunjungan ke layanan kesehatan Anda untuk evaluasi lebih lanjut jika berkembang:

  • Sakit tenggorokan yang parah atau ketidak mampuan untuk menelan
  • Leher bengkak
  • Sulit bernapas
  • Nyeri dada
  • Merasa lemah atau mati rasa yang ekstrim
  • Paparan pada seseorang yang diketahui atau dicurigai difteri
  • Demam pada individu dengan sistem kekebalan yang terganggu

Untuk mengatasi difteri mungkin dokter akan memberikan:

  • Memberikan antitoksin untuk menghentikan racun yang dibuat oleh bakteri yang merusak tubuh. Perawatan ini sangat penting untuk infeksi difteri pernapasan, tetapi jarang digunakan untuk infeksi kulit difteri. 
  • Menggunakan antibiotik untuk membunuh dan menyingkirkan bakteri. Ini penting untuk infeksi difteri pada sistem pernapasan dan pada kulit. 

Orang dengan difteri biasanya tidak dapat menulari orang lain 48 jam setelah mereka mulai mengonsumsi antibiotik. Namun, penting untuk menyelesaikan penggunaan antibiotik sepenuhnya untuk memastikan bakteri benar-benar dikeluarkan dari tubuh. 

Setelah pasien selesai menjalani perawatan lengkap, dokter akan melakukan tes untuk memastikan bakteri tidak ada lagi di dalam tubuh pasien. Jadi, penting untuk Anda segera memeriksakan diri ke dokter ketika ada tanda atau gejala tonsillitis difteri. Karena jika dibiarkan dapat menyebabkan kematian karena jalan napas yang tersumbat.

Lakukan Hal Ini untuk Menghindari Cat Scratch Disease

Cat scratch disease (CSD) adalah infeksi bakteri yang disebarkan oleh kucing. Penyakit ini menyebar ketika kucing yang terinfeksi menjilat luka terbuka seseorang, atau menggigit atau mencakar seseorang dengan cukup keras hingga merusak permukaan kulitnya.

Sekitar tiga hingga 14 hari setelah kulit rusak, infeksi ringan dapat terjadi di lokasi goresan atau gigitan. Area yang terinfeksi mungkin tampak bengkak dan merah dengan lesi bulat dan menonjol serta bisa bernanah. Seseorang dengan cat scratch disease mungkin juga mengalami demam, sakit kepala, nafsu makan yang buruk, dan kelelahan. Nantinya, kelenjar getah bening orang tersebut di dekat goresan atau gigitan asli bisa menjadi bengkak, lunak, atau nyeri.

Jika Anda khawatir dengan cat scratch disease, Anda tidak perlu menyingkirkan hewan peliharaan Anda. Penyakit ini tidak umum dan biasanya ringan, dan beberapa langkah dapat membantu membatasi kemungkinan Anda atau anak Anda tertular.

Ajari anak-anak untuk menghindari kucing liar atau kucing asing untuk mengurangi paparan mereka terhadap sumber bakteri. Untuk menurunkan resiko tertular penyakit dari hewan peliharaan keluarga atau kucing yang familiar, sebaiknya menghindari permainan kasar agar tidak tergores atau digigit. Mintalah anggota keluarga Anda mencuci tangan setelah memegang atau bermain dengan kucing.

Jika anak Anda atau Anda digaruk oleh hewan peliharaan, basuhlah area yang terluka dengan baik dengan sabun dan air. Menjaga kandang dan hewan peliharaan Anda bebas dari kutu akan mengurangi resiko kucing Anda terinfeksi bakteri sejak awal.

Jika Anda mencurigai seseorang terjangkit cat scratch disease dari hewan peliharaan keluarga Anda, jangan khawatir kucing Anda harus di-eutanasia (ditidurkan). Bicarakan dengan dokter hewan Anda tentang bagaimana menangani masalah tersebut.

Cat scratch disease disebabkan oleh bakteri yang disebut Bartonella henselae. Sekitar 40% kucing membawa B. henselae pada suatu waktu dalam hidup mereka, meskipun kebanyakan kucing dengan infeksi ini tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit. Anak kucing yang berusia kurang dari 1 tahun lebih mungkin terkena infeksi B. henselae dan menyebarkan kuman tersebut kepada manusia. Anak kucing juga lebih cenderung mencakar dan menggigit saat bermain dan belajar cara menyerang mangsa.

Jika Anda atau anak Anda terluka atau kena cakar saat bermain dengan hewan peliharaan, cuci bersih gigitan dan cakaran kucing dengan sabun dan air mengalir. Jangan biarkan kucing menjilati luka Anda. Hubungi dokter Anda jika Anda mengalami gejala cat scratch disease atau infeksi.

Banyak kasus cat scratch disease yang sembuh dengan sendirinya, tetapi beberapa kasus masih memerlukan dokter. Hubungi dokter jika Anda atau anak Anda pernah digaruk atau digigit kucing dan mengalami gejala berikut:

  • Kelenjar getah bening yang bengkak atau nyeri
  • Cederanya sepertinya tidak kunjung sembuh setelah beberapa hari
  • Kemerahan di sekitar luka meluas
  • Demam berkembang beberapa hari setelah gigitan

Jika Anda pernah didiagnosa cat scratch disease, Anda harus menghubungi dokter sesegera mungkin jika Anda mengalami:

  • Peningkatan nyeri di kelenjar getah bening
  • Demam tinggi
  • Perasaan malaise
  • Gejala baru

Kebanyakan orang menjadi lebih baik tanpa pengobatan, dan mereka yang membutuhkan pengobatan umumnya menjadi lebih baik dengan antibiotik. Dalam beberapa kasus, orang mengalami komplikasi serius dari cat scratch disease. Komplikasi ini lebih mungkin terjadi pada orang yang sistem kekebalannya terganggu.

Apakah HIV Bisa Sembuh? Ini Faktanya

Human immunodeficiency virus atau HIV menjadi salah satu virus yang ditakutkan umat manusia. Ketika berhasil menginfeksi tubuh manusia, virus ini akan merusak sistem kekebalan tubuh dengan menghancurkan sel CD4. Kondisi ini akan terus berlanjut hingga seseorang mengalami AIDS dan memperburuk kehidupannya. Lantas, apakah HIV bisa sembuh?

Jika pertanyaan itu diajukan, jawabannya bisa bermacam-macam. Semua tergantung dengan kondisi seseorang yang terpapar, termasuk apa yang dia lakukan setelah terpapar virus tersebut. Namun, jawaban yang paling masuk akal—walau terdengar amat retoris—adalah, angka harapan hidup penderita bisa dioptimalkan.

Dunia medis sudah banyak melakukan studi, penelitian, serta penatalaksanaan yang menjadikan penderita HIV lepas dari bayang-bayang kematian. Tak dapat dimungkiri bahwa sejak awal perkembangan virus ini, penderita yang tak mendapat pertolongan dengan baik hanya akan berakhir di prosesi pemakaman.

Ketika penderita tak mendapat pertolongan, tubuhnya akan terus digempur virus ini sehingga sistem pertahanan tubuh mereka akan semakin lemah. Penderita tidak lagi memiliki kemampuan untuk melawan penyakit. Tanpa pengobatan, seseorang dengan HIV akan terserang bermacam penyakit kronis hingga diprediksi, mereka umumnya hanya bisa bertahan hidup selama 9 sampai 11 tahun setelah terinfeksi.

Sampai saat ini, penanganan yang dilakukan bertujuan mencegah virus tersebut menggila dan membuat tubuh sedikit memiliki perlawanan. Artinya, perawatan bagi para penderita HIV tidak dimaksudkan untuk membersihkan virus dari tubuh mereka, meski belakangan setitik cahaya muncul dari balik awan hitam tersebut.

Ada beberapa laporan yang menyebut bahwa telah terdapat pasien yang berhasil sembuh dari HIV. Pertanyaan “apakah HIV bisa sembuh?” kini punya ragam jawaban lain. Dilansir dari sebuah situs web tentang informasi dan edukasi perihal HIV dan AIDS, Avert, berikut beberapa berita tentang pasien yang berhasil terbebas dari infeksi HIV:

  • Pasien di London

Pada 2019 para ahli melaporkan adanya seorang pria yang terinfeksi HIV dan menerima transplantasi sel induk. Kini, ia sedang dalam tahap ‘remisi’ HIV. Artinya, pria di London tersebut tidak lagi menjalani pengobatan dengan antiretroviral dan dokter tidak dapat menemukan HIV di dalam tubuhnya. 

Pria ini dapat dinyatakan sembuh setelah menerima transplantasi sumsum tulang dengan kombinasi kemoterapi untuk menyembuhkan kanker darah yang dideritanya. Pendonor sel memiliki dua salinan gen CCR5 delta-32, yaitu mutasi genetik langka yang membuat orang kebal terhadap sebagian besar jenis HIV. Enzim CCR5 berperan penting dalam menonaktifkan ‘pintu masuk’ yang digunakan HIV untuk membuat sel tubuh terinfeksi. 

  • Pasien di Berlin

Kasus serupa pernah terjadi beberapa tahun sebelumnya, tepatnya pada 2008, seorang pria dari Berlin, Timothy Brown bisa sembuh dari HIV setelah menerima transplantasi sumsum tulang dan terapi radiasi total. Hingga kini Brown sudah tidak lagi menjalani pengobatan antiretroviral. Dia dinyatakan sembuh secara fungsional dari HIV karena tak lagi ditemukan adanya tanda-tanda virus itu bersemayam di dalam dirinya.

  • Bayi dari Mississippi, Amerika Serikat

Pada 2013 silam, sebuah konferensi terkait HIV/AIDS mengumumkan bahwa ada seorang bayi dari negara bagian Mississippi, Amerika Serikat, berhasil sembuh dari HIV setelah mendapat tiga jenis obat antiretroviral dalam dosis yang kuat semenjak dia lahir hingga usianya 18 bulan.

Namun, karena satu dan lain hal, pengobatan ini harus berhenti dan ketika beberapa waktu setelahnya dia dirawat di rumah sakit, dokter menemukan kembali virus HIV di dalam tubuh bayi malang tersebut.

Kasus ini membuat dunia medis membuat sebuah simpulan baru terkait pertanyaan “apakah HIV bisa disembuhkan?” Para dokter berpendapat bahwa sembuh dalam kasus HIV adalah sebuah kondisi yang amat fluktuatif. Keadaan bisa berganti dan berubah sewaktu-waktu dan secara tiba-tiba sehingga mereka sulit melekatkan predikat ‘sembuh’ kepada pasien HIV.

Kendati demikian, kasus bayi di Mississippi ini dapat dimaknai bahwa terapi antiretroviral (ARV) atau pengobatan apapun sejak dini dapat memengaruhi jawaban dari pertanyaan “apakah HIV bisa sembuh?” yang belum dapat dijawab secara pasti. Satu hal penting yang dapat diyakini adalah semua upaya yang dilakukan sejak dini bisa menghasilkan remisi jangka pendek. Setidaknya, tata laksana pengobatan penderita HIV dapat mengendalikan replikasi virus dan membatasi jumlah reservoir virus.

Inilah Diagnosis yang Dilakukan untuk Mendeteksi Gastroparesis

Gastroparesis merupakan gangguan motilitas (gerakan otot) lambung yang tidak normal, bisa jadi melambat atau tidak bekerja sama sekali. Akibatnya makanan yang masuk ke dalam lambung tidak dicerna dengan baik. Biasanya gastroparesis disebabkan kerusakan saraf atau penyakit tertentu seperti diabetes. Agar tak salah diagnosis dengan jenis penyakit lambung lainnya, dibutuhkan beberapa tes yang digunakan untuk memastikan dan memperkuat dugaan. Berikut ini diagnosis yang dilakukan jika terdapat tanda-dan gejala gastroparesis:

  • Tes darah

Pada dasarnya, tes darah tidak dapat dijadikan untuk mendiagnosis gastroparesis, namun tes ini dapat membantu memberikan penilaian umum kondisi tubuh seperti kondisi gizi pasien. Dengan demikian, kemungkinan penyakit lainnya yang berhubungan dengan gastroparesis bisa dideteksi melalui tes darah. 

  • Foto polos barium

Tes ini digunakan untuk mengetahui karakteristik struktural atau fungsional lambung. Penderita diberikan cairan barium untuk ditelan sehingga srtruktur akan nampak saat dilihat melalui rontgen. Dokter akan menilai bagaimana barium saat melewati saluran pencernaan.

Beberapa orang akan merasakan mual dan muntah setelah 30 menit cairan barium ditelan. Hipersensitivitas terhadap cairan barium juga mungkin terjadi meskipun kasusnya sangat kecil. 

  • Tes pengosongan isi lambung

Metode ini dilakukan untuk mengetahui kecepatan pengosongan lambung sehingga dokter bisa mendeteksi apakah lambung berfungsi dengan baik atau tidak. Tes pengosongan isi lambung dapat dilakukan melalui dua cara, diantaranya:

  • Scintigraphy

Pasien diminta untuk mengonsumsi makanan seperti telur atau roti panggang yang telah ditambahkan sedikit bahan radioaktif. Pemindai yang akan mendeteksi pergerakan radioaktif diletakkan di atas perut sehingga mampu memantau laju makanan saat meninggalkan lambung. Biasanya dokter menyarankan untuk tidak mengonsumsi obat yang memperlambat pengosongan lambung serta obat lainnya yang sejenis.

  • Tes pernapasan

Metode ini juga mengharuskan Anda mengonsumsi makanan jenis padat atau cair. Makanan tersebut berisi zat tertentu yang nantinya akan diserap tubuh kemudian zat akan dideteksi melalui napas. Sampel napas akan dikumpulkan selama beberapa jam dan diukur berapa banyaknya. Tes pernapasan dapat menunjukkan seberapa cepat sistem pencernaan mengosongkan lambung.

  • Tes kapsul nirkabel

Sebuah kapsul yang berfungsi mengirimkan data diberikan kepada pasien untuk dikonsumsi. Kapsul akan berada di tubuh pasien selama satu atau dua hari untuk mengetahui kondisi pencernaan. Nantinya informasi yang berasal dari kapsul akan diinterpretasikan oleh ahli radiologi. Kapsul biasanya digunakan sekali pakai dan dikeluarkan secara alami oleh tubuh.

  • Endoskopi saluran pencernaan bagian atas

Kerongkongan, lambung, dan duodenum akan diperiksa sehingga diketahui kondisi keseluruhan melalui gambar. Kamera kecil di ujung tabung panjang akan dimasukkan ke saluran pencernaan atas sehingga mampu bergerak secara fleksibel. Tak hanya gastroparesis, tes ini juga bisa digunakan untuk memeriksa kondisi lain seperti tukak lambung yang memiliki gejala hampir mirip dengan gastroparesis.

  • Ultrasound

Tes ini menggunakan teknik gelombang suara frekuensi tinggi yang diterjemahkan untuk menggambarkan struktur dalam tubuh. Ultrasound membantu membantu mendiagnosis penyakit lain yang mungkin berhubungan dengan gastroparesis seperti yang terdapat pada ginjal atau kandung empedu. Jika dibandingkan dengan tes pemindaian lainnya, ultrasound cenderung lebih terjangkau dari segi biaya dan termasuk dalam golongan tes non-invasif atau tidak merusak jaringan. Tes gastroparesis dipilih berrdasarkan kondisi pasien serta harus dilakukan di bawah pengawasan dokter dan radiologis. Jika dokter sudah mengetahui penyebab penyakit, maka penanganan akan disesuaikan dengan penyebab tersebut. Anda juga harus menjaga pola makan karena sangat memengaruhi penanganan.

Ini Gejala Seseorang Mengalami Gangguan Pembekuan Darah

Pernahkah Anda mengalami luka kecil namun darahnya tak kunjung berhenti? Jika sering terjadi demikian, mungkin Anda mengalami gangguan pembekuan darah.

Seperti yangd iketahiu, tubuh memiliki kemampuan untuk mencegah agar volume darah yang hilang atau keluar tidak terlalu banyak dengan mekanisme pembekuan darah atau disebut juga koagulasi. Nah, saat tubuh mengalami luka, secara alami darah di area sekitar luka akan menjadi padat karena adanya faktor pembekuan darah ini. Sehingga luka menjadi tertutup dan perdarahan yang terjadi pun bisa berhenti segera.

Akan tetapi, ada beberapa gangguan pembekuan darah yang membuat darah berhenti lebih lama dan perdarahan jadi lebih berat. Bahkan secara spontan perdarahan terkadang bisa muncul. Hal ini dikarenakan tidak terbentuk atau jumlah faktor pembekuan tersebut sedikit.

Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi, yaitu darah menjadi sulit membeku atau darah akan jadi lebih mudah untuk membeku.

Penyebab Terjadinya Gangguan Pembekuan Darah

Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya gangguan pembekuan darah ini. Faktor utamanya adalah adanya gangguan pada komponen-komponen yang telribat dalam proses pembekuan darah. Misalnya ada masalah pada trombosit dan protein yang merupakan faktor pembekuan darah.

Sel tubuh membutuhkan trombosit dan faktor pembekuan darah lainnya agar darah bisa menggumpal dengan baik. Ketika terjadi luka, trombosit akan berkumpul di area luka dan trombosit akan menyatu satu sama lainnya (agregasi trombosit).

Di waktu yang bersamaan faktor lain dan protein juga bekerja sama dengan trombosit guna membentuk jaringan fibrin yang berguna untuk menyumbat luka sehingga perdarahan berhenti.

Selain karena kekurangan trombosit atau faktor pembeku lainnya, darah yang sulit membeku juga disebabkan oleh kedua faktor tersebut tidak bekerja dengan baik dan optimal. Berikut beberapa penyebab gangguan pembekuan darah lainnya, yaitu:

  • Memilik gangguan medis tertentu yang bisa membuat darah sukar membeku. Penyakit tersebut adalah anemia, gangguan fungsi hati, defisiensi vitamin K, dan juga efek samping dari obat antikoagulan
  • Penyakit turunan juga bisa menyebabkan gangguan pembekuan darah ini. Jenis yang paling sering terjadi adalah hemofilia, penyakit von Willebrand, dan defisiensi faktor pembekuan II, V, VII, X, atau XII.

Tanda dan Gejala Gangguan Pembekuan Darah

Gejala yang dialami oleh orang dengan gangguan pembekuan darah bisa bervariasi, tergantung pada seberapa berat kondisi dan penyebabnya.

Biasanya gangguan pembekuan darah yang ringan mungkin tidak menunjukkan gejala yang berarti. Namun, jika penderita mengalami trauma berat atau setelah menjalani operasi besar, mungkin saja gejala perdarahan baru muncul. Berbeda dengan gangguan pembekuan darah berat, gejala bisa terlihat meskipun hanya mengalami perdarahan spontan saja.

Berikut gejala-gejala yang dialami oleh penderita gangguan pemebekuan darah umum, yaitu:

  • Muncul memar atau lebam biasanya berukuran besar tanpa alasan yang jelas.
  • Terjadi perdarahan berlebihan dan tidka berhenti padahal hanya luka kecil
  • Mimisan tidak berhenti dalam 10 menit
  • Mengalamo perdarahan dalam sendi seperti lutut, siku, dan pergelangan kaki yang menyebabkan rasa nyeri, kaku, hingga bengkak.
  • Gusi kerap berdarah
  • Mengalami demam berulang
  • Volume darah menstruasi sangat banyak
  • Penderita juga mengalami sesak napas, jantung yang berdebar, dan terasa nyeri dada

Gangguan pembekuan darah ini secara umum tidak bisa dicegah. Anda sebagai penderita gangguan ini sebisa mungkin mencegah agar tidak terjadi cedera atau luka agar tidak terjadi perdarahan yang berlebihan.