Tonsillitis Difteri, Sumbatan Jalan Napas Atas yang perlu Anda Waspadai!

Difteri merupakan penyakit infeksi menular yang terutama menyerang saluran pernapasan bagian atas (difteri pernapasan). Tonsilitis difteri merupakan infeksi serius yang disebabkan oleh bakteri yang disebut Corynebacterium diphtheriae yang memuat toksin atau racun. 

Nah, racun inilah yang dapat menyebabkan orang menjadi sangat sakit. Bakteri difteria biasanya menyebar dari orang ke orang melalui tetesan pernapasan, seperti batuk atau bersin. Orang lain juga bisa sakit jika menyetuh luka terbuka atau bisul yang terinfeksi. Karena sifatnya yang dapat menyumbat jalan napas atas, tentu Anda perlu wasapada terhadap penyakit ini. Berikut beberapa penjelasan lengkapnya. 

Gejala tonsillitis difteri

Gejala utama yang bisa terjadi adalah amandel yang meradang atau bengkak, dan terkadang cukup parah hingga membuat seseorang sulit bernapas melalui mulut. Gejalanya termasuk:

  • Sakit atau nyeri tenggorokan
  • Demam
  • Amandel merah
  • Lapisan putih atau kuning pada amandel Anda
  • Lepuh atau borok yang menyakitkan di tenggorokan Anda
  • Sakit kepala
  • Kehilangan selera makan
  • Sakit telinga
  • Kesulitan menelan
  • Kelenjar bengkak di leher atau rahang
  • Menggigil
  • Bau mulut
  • Suara serak atau teredam
  • Leher kaku

Gejala pada anak, mungkin termasuk:

  • Sakit perut 
  • Muntah
  • Ngiler
  • Tidak mau makan atau menelan

Komplikasi tonsilitis difteri

Komplikasi dari difteri pernapasan (ketika bakteri menginfeksi bagian tubuh yang terlibat dalam pernapasan) mungkin termasuk:

  • Penyumbatan jalan napas 
  • Kerusakan jaringan otot jantung (miokarditis)
  • Kerusakan saraf (polineuropati)
  • Kehilangan kemampuan untuk bergerak (kelumpuhan)
  • Gagal ginjal

Bagi sebagian orang, tonsillitis difteri ini dapat menyebabkan kematian. Bahkan dengan pengobatan, 1 dari 10 pasien bisa meninggal. 

Pencegahan

  • Vaksinasi. Cara terbaik untuk mencegah penyakit ini adalah dengan melakukan vaksinasi. Di Amerika Serikat ada empat vaksin yang digunakan untuk mencegah difteri, DTaP, Tdap, DT, dan Td. Masing-masing vaksin ini mencegah difteri dan tetanus. DTaP dan Tdap juga dpat membantu mencegah pertusis (batuk rejan). 
  • Antibiotik. CDC menganjurkan agar kontak dekat dari penderita menerima antibiotik untuk mencegah mereka jatuh sakit. Para ahli menyebutkan ini profilaksis. Ini penting bagi penderita difteri yang menginfeksi sistem pernapasan (bagian tubuh yang terlibat dalam pernapasan) dan kulit. 

Segera cari pertolongan medis

Seperti yang telah disebutkan di atas, gejala awal tonsillitis dofteri mirip dengan infeksi saluran pernapasan atas akibat virus (flu). Namun, ada gejala dan kondisi tertentu yang memerlukan kunjungan ke layanan kesehatan Anda untuk evaluasi lebih lanjut jika berkembang:

  • Sakit tenggorokan yang parah atau ketidak mampuan untuk menelan
  • Leher bengkak
  • Sulit bernapas
  • Nyeri dada
  • Merasa lemah atau mati rasa yang ekstrim
  • Paparan pada seseorang yang diketahui atau dicurigai difteri
  • Demam pada individu dengan sistem kekebalan yang terganggu

Untuk mengatasi difteri mungkin dokter akan memberikan:

  • Memberikan antitoksin untuk menghentikan racun yang dibuat oleh bakteri yang merusak tubuh. Perawatan ini sangat penting untuk infeksi difteri pernapasan, tetapi jarang digunakan untuk infeksi kulit difteri. 
  • Menggunakan antibiotik untuk membunuh dan menyingkirkan bakteri. Ini penting untuk infeksi difteri pada sistem pernapasan dan pada kulit. 

Orang dengan difteri biasanya tidak dapat menulari orang lain 48 jam setelah mereka mulai mengonsumsi antibiotik. Namun, penting untuk menyelesaikan penggunaan antibiotik sepenuhnya untuk memastikan bakteri benar-benar dikeluarkan dari tubuh. 

Setelah pasien selesai menjalani perawatan lengkap, dokter akan melakukan tes untuk memastikan bakteri tidak ada lagi di dalam tubuh pasien. Jadi, penting untuk Anda segera memeriksakan diri ke dokter ketika ada tanda atau gejala tonsillitis difteri. Karena jika dibiarkan dapat menyebabkan kematian karena jalan napas yang tersumbat.

Lakukan Hal Ini untuk Menghindari Cat Scratch Disease

Cat scratch disease (CSD) adalah infeksi bakteri yang disebarkan oleh kucing. Penyakit ini menyebar ketika kucing yang terinfeksi menjilat luka terbuka seseorang, atau menggigit atau mencakar seseorang dengan cukup keras hingga merusak permukaan kulitnya.

Sekitar tiga hingga 14 hari setelah kulit rusak, infeksi ringan dapat terjadi di lokasi goresan atau gigitan. Area yang terinfeksi mungkin tampak bengkak dan merah dengan lesi bulat dan menonjol serta bisa bernanah. Seseorang dengan cat scratch disease mungkin juga mengalami demam, sakit kepala, nafsu makan yang buruk, dan kelelahan. Nantinya, kelenjar getah bening orang tersebut di dekat goresan atau gigitan asli bisa menjadi bengkak, lunak, atau nyeri.

Jika Anda khawatir dengan cat scratch disease, Anda tidak perlu menyingkirkan hewan peliharaan Anda. Penyakit ini tidak umum dan biasanya ringan, dan beberapa langkah dapat membantu membatasi kemungkinan Anda atau anak Anda tertular.

Ajari anak-anak untuk menghindari kucing liar atau kucing asing untuk mengurangi paparan mereka terhadap sumber bakteri. Untuk menurunkan resiko tertular penyakit dari hewan peliharaan keluarga atau kucing yang familiar, sebaiknya menghindari permainan kasar agar tidak tergores atau digigit. Mintalah anggota keluarga Anda mencuci tangan setelah memegang atau bermain dengan kucing.

Jika anak Anda atau Anda digaruk oleh hewan peliharaan, basuhlah area yang terluka dengan baik dengan sabun dan air. Menjaga kandang dan hewan peliharaan Anda bebas dari kutu akan mengurangi resiko kucing Anda terinfeksi bakteri sejak awal.

Jika Anda mencurigai seseorang terjangkit cat scratch disease dari hewan peliharaan keluarga Anda, jangan khawatir kucing Anda harus di-eutanasia (ditidurkan). Bicarakan dengan dokter hewan Anda tentang bagaimana menangani masalah tersebut.

Cat scratch disease disebabkan oleh bakteri yang disebut Bartonella henselae. Sekitar 40% kucing membawa B. henselae pada suatu waktu dalam hidup mereka, meskipun kebanyakan kucing dengan infeksi ini tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit. Anak kucing yang berusia kurang dari 1 tahun lebih mungkin terkena infeksi B. henselae dan menyebarkan kuman tersebut kepada manusia. Anak kucing juga lebih cenderung mencakar dan menggigit saat bermain dan belajar cara menyerang mangsa.

Jika Anda atau anak Anda terluka atau kena cakar saat bermain dengan hewan peliharaan, cuci bersih gigitan dan cakaran kucing dengan sabun dan air mengalir. Jangan biarkan kucing menjilati luka Anda. Hubungi dokter Anda jika Anda mengalami gejala cat scratch disease atau infeksi.

Banyak kasus cat scratch disease yang sembuh dengan sendirinya, tetapi beberapa kasus masih memerlukan dokter. Hubungi dokter jika Anda atau anak Anda pernah digaruk atau digigit kucing dan mengalami gejala berikut:

  • Kelenjar getah bening yang bengkak atau nyeri
  • Cederanya sepertinya tidak kunjung sembuh setelah beberapa hari
  • Kemerahan di sekitar luka meluas
  • Demam berkembang beberapa hari setelah gigitan

Jika Anda pernah didiagnosa cat scratch disease, Anda harus menghubungi dokter sesegera mungkin jika Anda mengalami:

  • Peningkatan nyeri di kelenjar getah bening
  • Demam tinggi
  • Perasaan malaise
  • Gejala baru

Kebanyakan orang menjadi lebih baik tanpa pengobatan, dan mereka yang membutuhkan pengobatan umumnya menjadi lebih baik dengan antibiotik. Dalam beberapa kasus, orang mengalami komplikasi serius dari cat scratch disease. Komplikasi ini lebih mungkin terjadi pada orang yang sistem kekebalannya terganggu.

Apakah HIV Bisa Sembuh? Ini Faktanya

Human immunodeficiency virus atau HIV menjadi salah satu virus yang ditakutkan umat manusia. Ketika berhasil menginfeksi tubuh manusia, virus ini akan merusak sistem kekebalan tubuh dengan menghancurkan sel CD4. Kondisi ini akan terus berlanjut hingga seseorang mengalami AIDS dan memperburuk kehidupannya. Lantas, apakah HIV bisa sembuh?

Jika pertanyaan itu diajukan, jawabannya bisa bermacam-macam. Semua tergantung dengan kondisi seseorang yang terpapar, termasuk apa yang dia lakukan setelah terpapar virus tersebut. Namun, jawaban yang paling masuk akal—walau terdengar amat retoris—adalah, angka harapan hidup penderita bisa dioptimalkan.

Dunia medis sudah banyak melakukan studi, penelitian, serta penatalaksanaan yang menjadikan penderita HIV lepas dari bayang-bayang kematian. Tak dapat dimungkiri bahwa sejak awal perkembangan virus ini, penderita yang tak mendapat pertolongan dengan baik hanya akan berakhir di prosesi pemakaman.

Ketika penderita tak mendapat pertolongan, tubuhnya akan terus digempur virus ini sehingga sistem pertahanan tubuh mereka akan semakin lemah. Penderita tidak lagi memiliki kemampuan untuk melawan penyakit. Tanpa pengobatan, seseorang dengan HIV akan terserang bermacam penyakit kronis hingga diprediksi, mereka umumnya hanya bisa bertahan hidup selama 9 sampai 11 tahun setelah terinfeksi.

Sampai saat ini, penanganan yang dilakukan bertujuan mencegah virus tersebut menggila dan membuat tubuh sedikit memiliki perlawanan. Artinya, perawatan bagi para penderita HIV tidak dimaksudkan untuk membersihkan virus dari tubuh mereka, meski belakangan setitik cahaya muncul dari balik awan hitam tersebut.

Ada beberapa laporan yang menyebut bahwa telah terdapat pasien yang berhasil sembuh dari HIV. Pertanyaan “apakah HIV bisa sembuh?” kini punya ragam jawaban lain. Dilansir dari sebuah situs web tentang informasi dan edukasi perihal HIV dan AIDS, Avert, berikut beberapa berita tentang pasien yang berhasil terbebas dari infeksi HIV:

  • Pasien di London

Pada 2019 para ahli melaporkan adanya seorang pria yang terinfeksi HIV dan menerima transplantasi sel induk. Kini, ia sedang dalam tahap ‘remisi’ HIV. Artinya, pria di London tersebut tidak lagi menjalani pengobatan dengan antiretroviral dan dokter tidak dapat menemukan HIV di dalam tubuhnya. 

Pria ini dapat dinyatakan sembuh setelah menerima transplantasi sumsum tulang dengan kombinasi kemoterapi untuk menyembuhkan kanker darah yang dideritanya. Pendonor sel memiliki dua salinan gen CCR5 delta-32, yaitu mutasi genetik langka yang membuat orang kebal terhadap sebagian besar jenis HIV. Enzim CCR5 berperan penting dalam menonaktifkan ‘pintu masuk’ yang digunakan HIV untuk membuat sel tubuh terinfeksi. 

  • Pasien di Berlin

Kasus serupa pernah terjadi beberapa tahun sebelumnya, tepatnya pada 2008, seorang pria dari Berlin, Timothy Brown bisa sembuh dari HIV setelah menerima transplantasi sumsum tulang dan terapi radiasi total. Hingga kini Brown sudah tidak lagi menjalani pengobatan antiretroviral. Dia dinyatakan sembuh secara fungsional dari HIV karena tak lagi ditemukan adanya tanda-tanda virus itu bersemayam di dalam dirinya.

  • Bayi dari Mississippi, Amerika Serikat

Pada 2013 silam, sebuah konferensi terkait HIV/AIDS mengumumkan bahwa ada seorang bayi dari negara bagian Mississippi, Amerika Serikat, berhasil sembuh dari HIV setelah mendapat tiga jenis obat antiretroviral dalam dosis yang kuat semenjak dia lahir hingga usianya 18 bulan.

Namun, karena satu dan lain hal, pengobatan ini harus berhenti dan ketika beberapa waktu setelahnya dia dirawat di rumah sakit, dokter menemukan kembali virus HIV di dalam tubuh bayi malang tersebut.

Kasus ini membuat dunia medis membuat sebuah simpulan baru terkait pertanyaan “apakah HIV bisa disembuhkan?” Para dokter berpendapat bahwa sembuh dalam kasus HIV adalah sebuah kondisi yang amat fluktuatif. Keadaan bisa berganti dan berubah sewaktu-waktu dan secara tiba-tiba sehingga mereka sulit melekatkan predikat ‘sembuh’ kepada pasien HIV.

Kendati demikian, kasus bayi di Mississippi ini dapat dimaknai bahwa terapi antiretroviral (ARV) atau pengobatan apapun sejak dini dapat memengaruhi jawaban dari pertanyaan “apakah HIV bisa sembuh?” yang belum dapat dijawab secara pasti. Satu hal penting yang dapat diyakini adalah semua upaya yang dilakukan sejak dini bisa menghasilkan remisi jangka pendek. Setidaknya, tata laksana pengobatan penderita HIV dapat mengendalikan replikasi virus dan membatasi jumlah reservoir virus.

Inilah Diagnosis yang Dilakukan untuk Mendeteksi Gastroparesis

Gastroparesis merupakan gangguan motilitas (gerakan otot) lambung yang tidak normal, bisa jadi melambat atau tidak bekerja sama sekali. Akibatnya makanan yang masuk ke dalam lambung tidak dicerna dengan baik. Biasanya gastroparesis disebabkan kerusakan saraf atau penyakit tertentu seperti diabetes. Agar tak salah diagnosis dengan jenis penyakit lambung lainnya, dibutuhkan beberapa tes yang digunakan untuk memastikan dan memperkuat dugaan. Berikut ini diagnosis yang dilakukan jika terdapat tanda-dan gejala gastroparesis:

  • Tes darah

Pada dasarnya, tes darah tidak dapat dijadikan untuk mendiagnosis gastroparesis, namun tes ini dapat membantu memberikan penilaian umum kondisi tubuh seperti kondisi gizi pasien. Dengan demikian, kemungkinan penyakit lainnya yang berhubungan dengan gastroparesis bisa dideteksi melalui tes darah. 

  • Foto polos barium

Tes ini digunakan untuk mengetahui karakteristik struktural atau fungsional lambung. Penderita diberikan cairan barium untuk ditelan sehingga srtruktur akan nampak saat dilihat melalui rontgen. Dokter akan menilai bagaimana barium saat melewati saluran pencernaan.

Beberapa orang akan merasakan mual dan muntah setelah 30 menit cairan barium ditelan. Hipersensitivitas terhadap cairan barium juga mungkin terjadi meskipun kasusnya sangat kecil. 

  • Tes pengosongan isi lambung

Metode ini dilakukan untuk mengetahui kecepatan pengosongan lambung sehingga dokter bisa mendeteksi apakah lambung berfungsi dengan baik atau tidak. Tes pengosongan isi lambung dapat dilakukan melalui dua cara, diantaranya:

  • Scintigraphy

Pasien diminta untuk mengonsumsi makanan seperti telur atau roti panggang yang telah ditambahkan sedikit bahan radioaktif. Pemindai yang akan mendeteksi pergerakan radioaktif diletakkan di atas perut sehingga mampu memantau laju makanan saat meninggalkan lambung. Biasanya dokter menyarankan untuk tidak mengonsumsi obat yang memperlambat pengosongan lambung serta obat lainnya yang sejenis.

  • Tes pernapasan

Metode ini juga mengharuskan Anda mengonsumsi makanan jenis padat atau cair. Makanan tersebut berisi zat tertentu yang nantinya akan diserap tubuh kemudian zat akan dideteksi melalui napas. Sampel napas akan dikumpulkan selama beberapa jam dan diukur berapa banyaknya. Tes pernapasan dapat menunjukkan seberapa cepat sistem pencernaan mengosongkan lambung.

  • Tes kapsul nirkabel

Sebuah kapsul yang berfungsi mengirimkan data diberikan kepada pasien untuk dikonsumsi. Kapsul akan berada di tubuh pasien selama satu atau dua hari untuk mengetahui kondisi pencernaan. Nantinya informasi yang berasal dari kapsul akan diinterpretasikan oleh ahli radiologi. Kapsul biasanya digunakan sekali pakai dan dikeluarkan secara alami oleh tubuh.

  • Endoskopi saluran pencernaan bagian atas

Kerongkongan, lambung, dan duodenum akan diperiksa sehingga diketahui kondisi keseluruhan melalui gambar. Kamera kecil di ujung tabung panjang akan dimasukkan ke saluran pencernaan atas sehingga mampu bergerak secara fleksibel. Tak hanya gastroparesis, tes ini juga bisa digunakan untuk memeriksa kondisi lain seperti tukak lambung yang memiliki gejala hampir mirip dengan gastroparesis.

  • Ultrasound

Tes ini menggunakan teknik gelombang suara frekuensi tinggi yang diterjemahkan untuk menggambarkan struktur dalam tubuh. Ultrasound membantu membantu mendiagnosis penyakit lain yang mungkin berhubungan dengan gastroparesis seperti yang terdapat pada ginjal atau kandung empedu. Jika dibandingkan dengan tes pemindaian lainnya, ultrasound cenderung lebih terjangkau dari segi biaya dan termasuk dalam golongan tes non-invasif atau tidak merusak jaringan. Tes gastroparesis dipilih berrdasarkan kondisi pasien serta harus dilakukan di bawah pengawasan dokter dan radiologis. Jika dokter sudah mengetahui penyebab penyakit, maka penanganan akan disesuaikan dengan penyebab tersebut. Anda juga harus menjaga pola makan karena sangat memengaruhi penanganan.

Ini Gejala Seseorang Mengalami Gangguan Pembekuan Darah

Pernahkah Anda mengalami luka kecil namun darahnya tak kunjung berhenti? Jika sering terjadi demikian, mungkin Anda mengalami gangguan pembekuan darah.

Seperti yangd iketahiu, tubuh memiliki kemampuan untuk mencegah agar volume darah yang hilang atau keluar tidak terlalu banyak dengan mekanisme pembekuan darah atau disebut juga koagulasi. Nah, saat tubuh mengalami luka, secara alami darah di area sekitar luka akan menjadi padat karena adanya faktor pembekuan darah ini. Sehingga luka menjadi tertutup dan perdarahan yang terjadi pun bisa berhenti segera.

Akan tetapi, ada beberapa gangguan pembekuan darah yang membuat darah berhenti lebih lama dan perdarahan jadi lebih berat. Bahkan secara spontan perdarahan terkadang bisa muncul. Hal ini dikarenakan tidak terbentuk atau jumlah faktor pembekuan tersebut sedikit.

Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi, yaitu darah menjadi sulit membeku atau darah akan jadi lebih mudah untuk membeku.

Penyebab Terjadinya Gangguan Pembekuan Darah

Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya gangguan pembekuan darah ini. Faktor utamanya adalah adanya gangguan pada komponen-komponen yang telribat dalam proses pembekuan darah. Misalnya ada masalah pada trombosit dan protein yang merupakan faktor pembekuan darah.

Sel tubuh membutuhkan trombosit dan faktor pembekuan darah lainnya agar darah bisa menggumpal dengan baik. Ketika terjadi luka, trombosit akan berkumpul di area luka dan trombosit akan menyatu satu sama lainnya (agregasi trombosit).

Di waktu yang bersamaan faktor lain dan protein juga bekerja sama dengan trombosit guna membentuk jaringan fibrin yang berguna untuk menyumbat luka sehingga perdarahan berhenti.

Selain karena kekurangan trombosit atau faktor pembeku lainnya, darah yang sulit membeku juga disebabkan oleh kedua faktor tersebut tidak bekerja dengan baik dan optimal. Berikut beberapa penyebab gangguan pembekuan darah lainnya, yaitu:

  • Memilik gangguan medis tertentu yang bisa membuat darah sukar membeku. Penyakit tersebut adalah anemia, gangguan fungsi hati, defisiensi vitamin K, dan juga efek samping dari obat antikoagulan
  • Penyakit turunan juga bisa menyebabkan gangguan pembekuan darah ini. Jenis yang paling sering terjadi adalah hemofilia, penyakit von Willebrand, dan defisiensi faktor pembekuan II, V, VII, X, atau XII.

Tanda dan Gejala Gangguan Pembekuan Darah

Gejala yang dialami oleh orang dengan gangguan pembekuan darah bisa bervariasi, tergantung pada seberapa berat kondisi dan penyebabnya.

Biasanya gangguan pembekuan darah yang ringan mungkin tidak menunjukkan gejala yang berarti. Namun, jika penderita mengalami trauma berat atau setelah menjalani operasi besar, mungkin saja gejala perdarahan baru muncul. Berbeda dengan gangguan pembekuan darah berat, gejala bisa terlihat meskipun hanya mengalami perdarahan spontan saja.

Berikut gejala-gejala yang dialami oleh penderita gangguan pemebekuan darah umum, yaitu:

  • Muncul memar atau lebam biasanya berukuran besar tanpa alasan yang jelas.
  • Terjadi perdarahan berlebihan dan tidka berhenti padahal hanya luka kecil
  • Mimisan tidak berhenti dalam 10 menit
  • Mengalamo perdarahan dalam sendi seperti lutut, siku, dan pergelangan kaki yang menyebabkan rasa nyeri, kaku, hingga bengkak.
  • Gusi kerap berdarah
  • Mengalami demam berulang
  • Volume darah menstruasi sangat banyak
  • Penderita juga mengalami sesak napas, jantung yang berdebar, dan terasa nyeri dada

Gangguan pembekuan darah ini secara umum tidak bisa dicegah. Anda sebagai penderita gangguan ini sebisa mungkin mencegah agar tidak terjadi cedera atau luka agar tidak terjadi perdarahan yang berlebihan.

Ini Gejala Psittacosis, Penyakit Langka dari Infeksi Burung

Pernahkah Anda mendengar nama penyakit psittacosis? Psittacosis adalah penyakit langka yang umumnya menginfeksi unggas. Akan tetapi, dalam beberapa kasus, penyakit ini juga bisa menyerang manusia dan menyebabkan penyakit ringan serta pneumonia.

Meski sama-sama menyerang unggas, psittacosis berbeda dengan flu burung. Psittacosis disebabkan oleh bakteri chlamydia psittaci dan tergolong cukup langka. Penderita biasanya baru mengalami gejala 5-14 hari setelah terpapar oleh bakteri tersebut.

Gejala yang dirasakan saat menderita psittacosis

Pada manusia, gejalanya serupa dengan penyakit flu atau pneumonia. Sebagian besar gejalanya berupa:

  • Demam dan menggigil
  • Diare, mual, dan muntah
  • Tubuh melemah dan kelelahan
  • Batuk kering
  • Nyeri otot dan sendi

Selain gejala yang menyerupai flu dan pneumonia, Anda juga bisa saja mengalami gejala lain seperti:

  • Kesulitan bernapas
  • Sensitivitas terhadap cahaya
  • Nyeri dada

Setiap penderita bisa saja mengalami gejala yang berbeda-beda. Biasanya, gejala yang ditimbulkan cukup ringan dan bisa diatasi. Akan tetapi, dalam kasus yang cukup parah, gejalanya bisa mempengaruhi sistem organ dalam tubuh.

Organ tubuh yang akan paling terpengaruh dari kondisi psittacosis adalah paru-paru. Namun, bila menyebar, bakteri penyebab psittacosis juga bisa mempengaruhi organ jantung, hati, sistem saraf pusat, dan sel kulit.

Bila kondisi ini sudah menyebar ke organ tubuh lainnya, Anda mungkin akan mengalami gejala pada organ-organ tersebut, berupa:

  • Detak jantung yang melambat
  • Radang selaput tipis yang mengelilingi jantung
  • Radang hati yang menyebabkan penyakit kuning
  • Ruam di kulit wajah
  • Sakit kepala yang sangat parah dan peka terhadap cahaya

Bagaimana seseorang bisa tepapar bakter penyebab psittacosis?

Psittacosis pada manusia terjadi akibat paparan bakteri chlamydia psittaci. Paparan ini bisa terjadi saat Anda melakukan interaksi dengan unggas yang sudah terkena penyakit dari bakter ini.

Ketika bakteri chlamydia psittaci menyerang unggas, Anda mungkin tidak selalu melihat gejala tertentu pada unggas tersebut. Karena itu, Anda bisa saja terinfeksi bakteri yang sama setelah melakukan kontak dengan unggas yang Anda kira sehat.

Baik unggas maupun manusia mengalami paparan bakteri chlamydia psittaci dari droplet yang keluar dari saluran pernapasan. Droplet ini bisa terbawa ke udara yang dihirup oleh orang yang sehat.

Selain itu, paparan bakter ini juga bisa ditularkan melalui gigitan atau kontak dari paruh unggas ke mulut manusia. Akan tetapi, hal ini cukup jarang terjadi, karena tidak banyak manusia yang melakukan kontak mulu dengan paruh unggas.

Tapi, penyakit psittacosis tidak dapat ditularkan ke sesama manusia. Selain itu, tidak ada penelitian yang menunjukkan bahwa infeksi bakteri penyebab psittacosis bisa terjadi setelah mengonsumsi unggas yang terinfeksi.

Beberapa orang memiliki potensi lebih tinggi untuk menderita psittacosis. Faktor resiko psittacosis meliputi:

  • Peternak unggas atau pemilik hewan peliharaan unggas
  • Pekerja di toko hewan peliharaan
  • Dokter hewan

Psittacosis termasuk golongan penyakit yang cukup langka. Akan tetapi, pada hewan unggas, kondisi ini bisa menyebar dengan sangat cepat. Oleh sebab itu, penderita psittacosis dianjurkan untuk segera melaporkan ke tenaga medis bila mengalami gejala dari penyakit ini.

Untuk menghindari psittacosis, Anda perlu melakukan pembersihkan kandang unggas sesering mungkin. Selain itu, rawat unggas secara rutin dengan membawanya ke dokter hewan serta diberikan obat-obatan.

Usahakan juga untuk tidak menyimpan unggas dengan jumlah yang banyak dalam satu kandang. Hal ini berguna untuk mencegah penyebaran penyakit psittacosis ke semua unggas, lalu berdampak pada Anda sebagai pemiliknya juga.

Ketika Infeksi dan Peradangan Seluruh Tubuh Dipicu Urosepsis

Urosepsis bermula oleh infeksi saluran kemih yang menyebar ke organ lain

Dapat dikatakan bahwa darah adalah “hidup” manusia. Keberadaannya di dalam tubuh memungkinkan segalanya bekerja sebagaimana mestinya. Namun, kadang ada kondisi yang membuat darah tercemar dan berujung pada timbulnya masalah. Urosepsis hanyalah secuil faktor dari kemungkinan yang lebih besar. 

Dalam medis, kondisi “darah keracunan” disebut dengan sepsis. Sepsis membuat darah tercemar akibat reaksi dari sistem imun tubuh. Ketika tubuh terkena infeksi bakteri atau zat asing tertentu, sistem imun terlalu aktif dan memberikan respon berlebihan. Hal ini membuat antibodi diproduksi terlalu banyak dan akhirnya masuk ke dalam darah, kemudian menyebabkan darah “keracunan”.

  • Mengenal Urosepsis

Urosepsis adalah salah satu jenis sepsis. Kondisi ini terjadi akibat perluasan atau komplikasi dari Infeksi Saluran Kemih (ISK). Sebagian besar infeksi saluran kemih terjadi di kandung kemih (sistitis) dan uretra (uretritis). Sementara infeksi ginjal (pielonefritis) lebih jarang terjadi, tetapi biasanya bersifat lebih parah. 

Urosepsis adalah suatu kondisi di mana infeksi saluran kemih menyebar dari saluran kemih ke aliran darah yang menyebabkan infeksi sistemik yang bersirkulasi melalui tubuh. Kondisi ini merangsang tubuh menghasilkan antibodi berlebihan. Akhirnya, antibodi ini bocor ke dalam pembuluh darah di sekitar organ perkemihan dan menimbulkan urosepsis.

Urosepsis dapat dengan cepat berkembang menjadi infeksi yang bisa mengancam jiwa, bahkan dengan diagnosis dan pengobatan yang cepat, urosepsis masih bisa berkembang menjadi infeksi yang sulit dikendalikan dengan obat dan perawatan. Dalam kasus yang paling parah, sepsis dapat menyebabkan kegagalan organ multsistem.

Gejala atau tanda-tanda urosepsis lebih dari sekadar segala yang dikeluhkan penderita ISK. Mungkin awalnya penderita urosepsis juga mengalami hal yang sama, mulai dari sering buang air kecil, sensasi penuh pada kandung kemih, dan sebagainya.

Akan tetapi, secara lebih spesifik gejala atau tanda yang dikeluhkan penderita urosepsis lebih urosepsis juga dapat menunjukkan gejala yang lebih serius. Berikut beberapa gejala atau kondisi yang menandakan, meski tak terbatas pada, seperti:

  • Nyeri di dekat ginjal, di sisi bawah punggung
  • Mual dengan atau tanpa muntah
  • Kelelahan ekstrim
  • Volume urine berkurang atau tidak keluar sama sekali
  • Sulit bernapas atau napas cepat
  • Kebingungan
  • Merasa cemas yang berlebihan
  • Perubahan denyut jantung, seperti detak jantung yang cepat (palpitasi)
  • Denyut lemah
  • Demam tinggi atau suhu tubuh rendah
  • Banyak berkeringat

Jika Anda sudah mulai memiliki atau merasakan beberapa kondisi di atas, atau bahkan Anda merupakan orang-orang dengan risiko urosepsis, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan di pusat medis. 

Hal ini tentu saja untuk meminimalisir kondisi berkembang kea rah yang buruk dan tidak diinginkan, seperti syok septik dan kegagalan multiorgan yang bisa membahayakan nyawa seseorang.

  • Syok Septik, Ketika Organ di Seluruh Tubuh Mengalami Peradangan

Syok septik merupakan keadaan penurunan tekanan darah yang disertai dengan tanda kegagalan sirkulasi udara pada darah. Hal ini disebabkan oleh peradangan pada seluruh tubuh yang diakibatkan oleh adanya infeksi, dalam hal ini kelompok sepsis, termasuk urosepsis.

Selain infeksi di saluran kemih, syok septik ini bisa dipicu oleh infeksi atau sepsis di tempat lain, mulai dari saluran napas dan paru-paru hinnga infeksi saluran pencernaan. Syok septik dapat meningkatkan risiko gagal organ hingga kematian pada penderita sepsis.

Pada syok septik, pemberian antibiotik diperlukan untuk mengatasi infeksi bakteri yang menjadi penyebabnya. Jenis antibiotik yang diberikan akan disesuaikan dengan jenis bakteri yang menginfeksi tubuh.

Selain itu, dokter dapat memberikan perawatan lain sesuai dengan keadaan pasien, seperti cuci darah (terapi dialisis) jika terjadi kagagalan fungsi ginjal, pembedahan jika memang ada lokasi infeksi yang perlu dioperasi, serta pemberian obat-obatan untuk mengendalikan gula darah dan untuk meringankan gejala lainnya.

Dari semua penjelasan di atas dapat dipahami bahwa menjaga kondisi tubuh tetap sehat merupakan kunci dari terhindar dari kemungkinan terburuk tersebut. Agar tak terserang syok septik, seseorang mungkin perlu menjaga kesehatan organ reproduksinya, termasuk saluran kencing, sehingga tak menderita urosepsis yang kita tahu bisa berkembang menjadi kondisi membahayakan tersebut.

Sama-Sama Metode Endoskopi, Apa Beda Bronkoskopi dan Mediastinoscopy?

Kondisi medis yang terjadi di organ dalam tubuh tentu saja membutuhkan perlakuan tertentu untuk memeriksa atau mengobatinya. Jika pada beberapa puluh tahun yang lalu dunia medis hanya mengenal teknik bedah, kini perkembangan teknologi telah membuatnya semakin mudah. Hanya butuh alat kecil, dokter sudah dapat menjangkau “target”. Metode itu dinamakan endoskopi, dengan berbagai jenisnya, termasuk dua di antaranya adalah bronkoskopi dan mediastinoscopy.

Secara sederhana, endoskopi dapat dimengerti sebagai sebuah prosedur pemeriksaan yang bertujuan untuk melihat kondisi organ tubuh tertentu secara visual, dengan menggunakan alat khusus yang disebut endoskop.

Endoskop merupakan alat berbentuk seperti selang lentur yang dilengkapi dengan kamera pada bagian ujungnya, yang dapat disambungkan ke monitor untuk memproyeksikan gambar yang ditangkap. Endoskop dapat dimasukkan ke dalam tubuh melalui rongga tubuh, seperti mulut, hidung, anus, atau melalui irisan kulit (insisi) yang dibuat khusus untuk endoskopi.

Dua jenis yang disebut di atas, bronkoskopi dan mediastinoscopy, merupakan metode endoskopi yang umum digunakan untuk memeriksa rongga dada, utamanya paru-paru dan sekitarnya. Lantas, terletak di manakah perbedaan keduanya? Berikut penjelasan singkatnya.

  • Bronkoskopi

Bronkoskopi adalah prosedur medis yang dilakukan untuk memeriksa saluran pernapasan serta paru-paru bagian dalam. Prosedur ini menggunakan alat khusus yang disebut dengan bronkoskop, berbentuk tabung tipis yang dilengkapi dengan kamera serta lampu pada bagian ujung tabung.

Prosedur bronkoskopi biasanya dijalankan untuk membuat diagnosa gangguan kesehatan pada paru-paru, misalnya infeksi, tumor, atau penyakit lainnya pada paru-paru. Selain membuat diagnosa, prosedur bronkoskopi juga biasanya ditempuh sebagai metode pengobatan penyakit paru-paru, bentuk penanganan dengan mengambil benda asing yang menyumbat saluran pernapasan, serta mengambil lendir atau jaringan dalam paru-paru untuk dijadikan sampel pemeriksaan.

Biasanya, dokter akan menyarankan bronkoskopi jika pasien mengalami kondisi seperti batuk berkepanjangan, batuk darah, gangguan pernapasan, atau karena dokter curiga telah terjadi sesuatu di dalam dada pasien setelah melakukan pemeriksaan radiologi (rontgen atau CT scan).

Fungsi bronkoskopi dalam kondisi tersebut umumnya untuk mengambil sampel jaringan pada area paru-paru untuk dilakukan tes lanjutan demi menegakkan diagnosis penyakit pada paru-paru. Namun, tidak menutup kemungkinan pula metode itu dilakukan untuk mencari penyebab gangguan yang dialami oleh saluran pernapasan. Gangguan yang dimaksud mencakup perdarahan, kesulitan bernapas, serta batuk kronis atau batuk yang tidak kunjung sembuh.

  • Mediastinoscopy

Jenis endoskopi ini juga sama-sama difungsikan untuk memeriksa atau menangani masalah di sekitar rongga dada. Akan tetapi, mediastinoscopy ini terfokus pada mediastinum atau ruang di belakang tulang dada (sternum), di antara paru-paru.

Di ruang itulah terletak berbagai organ vital manusia, mulai dari jantung, pembuluh darah jantung, kelenjar getah bening, trakea, kerongkongan (esofagus), hingga kelenjar timus. Alat khusus yang digunakan dalam prosedur mediastinoscopy ini disebut mediastinoskop.

Sama dengan alat bantu endoskopi lain, alat ini berbentuk seperti selang yang lentur dengan kamera dan lampu di ujungnya. Pun nantinya dokter dapat melihat organ dan struktur dalam mediastinum dengan lebih jelas. Gambar dari alat ini juga dapat ditampilkan di layar komputer maupun direkam.

Tujuan dilakukannya mediastinoscopy juga lebih spesifik jika dibanding bronkoskopi. Mediastinoscopy dikhususkan untuk memeriksa dan menegakkan diagnosis dari kemungkinan kanker yang terjadi di area itu.

Jaringan yang akan diambil dalam prosedur ini adalah kelenjar getah bening di mediastinum. Dokter umumnya melakukan mediastinoscopy untuk mencari tahu penyebaran kanker telah agar stadium kanker dapat ditentukan. Berbagai jenis kanker yang dapat dideteksi lewat metode ini di antaranya:

  • Kanker limfatik;
  • Kanker paru;
  • Kanker bronkus;
  • Serta kemungkinan kanker lain yang terjadi di mediastinum

Dari sedikit penjelasan di atas dapat tergambar sedikit mengenai kedua jenis endoskopi ini. Sebenarnya tak ada yang jauh berbeda antara mediastinoscopy dengan bronkoskopi. Perbedaan mungkin hanya terletak pada posisi atau “target” pemeriksaan.

Sedangkan metode, alat penunjang yang digunakan, serta maksud dan tujuan dari mediastinoscopy dan bronkoskopi hampir sama persis. Namun, keduanya tak bisa saling menggantikan. Artinya, pelaksanaan masing-masing metode ini harus sesuai dengan kondisi atau masalah yang diderita oleh pasien.

Seringkali Susah Buang Air Besar? Ini Dia Faktor Penyebabnya

Apakah Anda seringkali mengalami kesulitan ketika akan buang air besar? Tenang, kondisi ini pada dasarnya umum terjadi. Rasa sembelit atau konstipasi ternyata dapat terjadi pada seseorang sebanyak tiga kali dalam seminggu. Susah buang air besar ini umumnya terjadi akibat kotoran yang cenderung padat dan keras, sehingga sulit untuk dikeluarkan oleh tubuh.

Susah buang air besar juga dapat menjadi tanda adanya gangguan medis tertentu, seperti sindrom iritasi usus. Kondisi sindrom iritasi usus yang dapat di atas dengan perawatan dan penanganan khusus dari dokter. Tidak perlu khawatir! Sebagian kasus susah buang air besar bukan merupakan gangguan medis serius dan bersifat jangka pendek. Perawatan dan penyembuhannya pun dapat dikatakan mudah.

Ini Faktor Penyebab Susah Buang Air Besar

Ketika ingin mengetahui penyebab dari susah buang air besar, terdapat beberapa pertanyaan yang perlu Anda ajukan pada diri sendiri. Pertanyaannya berupa:

  1. Sudahkah Anda cukup mengonsumsi makanan berserat?

Makanan berserat dibutuhkan oleh tubuh untuk memperlancar kinerja organ-organ pencernaan, seperti usus. Asupan makanan berserat dapat menunjang kerja dan fungsi usus secara lebih optimal. Anda dapat mengonsumsi makanan berserat, seperti buah dan sayuran secara rutin setiap hari agar kebutuhan gizi dalam tubuh dapat terpenuhi.

  1. Sudahkah Anda memenuhi kebutuhan cairan tubuh?

Tentu Anda seringkali mendengar saran atau membaca informasi tentang pentingnya minum air putih bagi kesehatan tubuh. Hal ini bukan tanpa alasan, mengingat bahwa proses mengeluarkan makanan dan kotoran melalui usus membutuhkan bantuan banyak cairan agar dapat berjalan dengan lancar.

Ketika tubuh kekurangan asupan air, maka tubuh akan secara otomatis menyerap Kembali kandungan air dari kotoran. Proses ini menjadikan feses lebih keras, sehingga sulit untuk dikeluarkan.

  1. Apakah suplemen menjadi sumber masalah?

Jika Anda rutin mengonsumsi suplemen, maka Anda perlu untuk waspada terhadap efek samping yang ditimbulkan. Tanpa disadari, suplemen zat besi atau kalsium yang terkandung dalam suplemen dapat memicu sembelit pada sebagian orang.

Walaupun begitu, Anda tetap diperbolehkan untuk mengonsumsi suplemen. Hanya saja, Anda juga perlu untuk menyeimbangkannya dengan asupan serat, memperbanyak minum air, dan aktif secara fisik untuk mencegah sembelit.

Jika hal tersebut tidak juga mengatasi permasalahan sembelit Anda, maka waktunya bagi Anda untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

  1. Sering menahan untuk buang air besar?

Apakah Anda memiliki kebiasaan untuk membuang air besar? Hal ini dapat terjadi ketika keseharian Anda dipenuhi oleh berbagai aktivitas dan pekerjaan. Ada kalanya Anda enggan untuk buang air besar, karena tidak nyaman menggunakan toilet umum di tempat Anda beraktivitas jika dibanding dengan toilet di rumah.

Kebiasaan menahan buang air besar ini juga dapat menjadi faktor susah buang air besar. Kotoran yang berada di usus besar akan semakin mengeras dan sulit untuk dikeluarkan tiap kali Anda menahan untuk buang air besar.

  1. Semakin bertambah usia, maka semakin berisiko mengalami permasalahan pada usus

Tahukah Anda bahwa faktor usia juga berpengaruh terhadap permasalahan susah buang air besar? Semakin Anda bertambah usia, risiko terjadinya gangguan kesehatan pada usus juga turut meningkat. Menerapkan pola hidup sehat sedari usia muda dengan rutin berolahraga, memperbanyak minum air putih, dan mengonsumsi makanan sehat, dapat menurunkan risiko gangguan usus.

Hati-hati, Ini Penyebab Diare Kronis!

Diare kerap dianggap sebagai masalah pencernaan umum yang biasa dialami oleh orang dewasa. Namun berhati-hatilah, diare yang dianggap biasa tersebut nyatanya dapat mengancam nyawa Anda jika sudah tergolong sebagai diare kronis.

diare kronis

Diare kronis ditandai dengan terus berlanjutnya gejala buang air besar berbentuk cairan selama lebih dari 2 minggu. Kondisi ini membuat penderita menjadi terserang dehidrasi parah juga membuat kerusakan yang lebih parah pada saluran pencernaan. Jika sudah masuk dalam kondisi ini, mendapatkan penanganan medis langsung dari dokter merupakan upaya yang mesti Anda tempuh.

Pengobatan diare kronis tidak semudah mengobati diare biasa. Setidaknya ada berbagai pemeriksaan yang mesti Anda jalani guna memastikan penanganan medis sesuai dengan penyebab diare ini. Karena itu daripada repot mengurus perawatan jika terkena diare kronis, lebih baik berhati-hati dan berusahalah menghindari dari berbagai penyebab diare kronis ini.

  1. Konsumsi Obat Pencahar Berlebih

Diare kronis awalnya kerap dipicu dari kebiasaan Anda mengonsumsi berbagai macam obat-obatan tidak sesuai dosis. Khususnya apabila Anda suka menggunakan obat-obatan pencahar ataupun antibiotik, berhati-hatilah! Jika penggunaannya berlebih, obat-obatan tersebut justru akan membuat Anda terserang diare kronis.

Obat pencahar yang dimaksud di sini bukan hanya obat-obatan medis yang sudah melalui uji klinis. Penggunaan jamu atau obat herbal yang bertujuan melancarkan buang air besar juga berpotensi menimbulkan diare kronis.

  • Makanan dengan Tambahan Protein

Anda penyuka susu atau makanan kemasan yang mengandung protein tinggi lainnya? Ternyata, makanan-makanan tersebut juga bisa menjadi penyebab diare kronis menyerang. Namun, makanan dengan tambahan protein yang memicu diare parah sangat bergantung dengan kondisi Anda.

Jika Anda termasuk orang yang memiliki intoleransi terkait protein tinggi, potensi makanan-makanan tersebut menyebabkan diare kronis akan semakin tinggi. Pada orang yang demikian, sebaiknya hindari juga makanan atau minuman dengan tambahan sorbitol, fruktosa, olestra. Sayangnya, tidak semua oran menyadari tingkat kesensitifannya terkait protein tinggi. Perlu ada pemeriksaan khusus ke dokter.

  • Kafein dan Alkohol

Ketika mengonsumsi minuman dengan kandungan kafein atau alkohol tinggi, Anda mungkin sadar tingkat buang air besar Anda akan semakin lancar. Karena itu pulalah, kopi kerap menjadi pilihan sarapan guna memperlancar pencernaaan di pagi hari. Akan tetapi jika konsumsinya tidak dibatasi, minuman dengan kadar kafein dan alkohol tinggi justru bisa membuat Anda terserang diare kronis.

Pasalnya, kafein dan alkohol memiliki sifat mencairkan feses. Karena alasan ini pulalah, ketika dikonsumsi melebihi yang seharusnya, feses Anda akan terlalu cair dan mengarah kepada diare. Jika konsumsi kafein dan alkohol terus dilanjutkan, siap-siap saja diare tersebut akan terus berlanjut lebih dari 2 minggu.

  • Imunitas Tubuh yang Rendah

Diare kronis sangat mudah menyerang orang-orang yang memiliki tingkat imunitas tubuh yang rendah. Alasannya karena imunitas yang rendah, baik bakteri maupun virus lebih mudah masuk ke tubuh, tidak terkecuali jenis bakteri Aeromonas, E.coli, Salmonella, serta virus norovirus ataupun rotavirus yang menjadi penyebab diare.

Jadi ketika Anda menyadari imunitas tubuh Anda rendah, lebih berhati-hatilah dalam mengonsumsi segala sesuatu. Tidak hanya makanan dan minuman, penggunaan obat-obat anti-inflamasi pada orang yang memiliki imunitas tubuh yang rendah juga mudah memicu datangnya diare kronis.

  • Infeksi Berkepanjangan

Beberapa orang kerap mengabaikan adanya infeksi pada tubuh mereka, apalagi jika infeksi tersebut dirasa tidak terlalu bermasalah pada kondisi tubuh mereka. Padahal, infeksi yang kecil sekalipun dapat memicu berbagai penyakit lain, tidak terkecuali penyakit diare kronis.

Karena itu, jika memang ada menderita infeksi, baiknya segera menanganinya. Lakukan pengobatan sampai tuntas guna meminimalkan risiko penyakit bawaan lain dari infeksi tersebut. Dengan cara ini, potensi hadirnya diare kronis pun bisa dibatasi.

*** Bagaimanapun mencegah lebih baik daripada mengobati. Karena jika sudah terkena diare kronis, bisa dipastikan segala aktivitas Anda akan terganggu. Belum lagi Anda mesti memikirkan biaya pengobatan yang akan keluar jika diare tersebut tak kunjung sembuh.