Apakah HIV Bisa Sembuh? Ini Faktanya

Human immunodeficiency virus atau HIV menjadi salah satu virus yang ditakutkan umat manusia. Ketika berhasil menginfeksi tubuh manusia, virus ini akan merusak sistem kekebalan tubuh dengan menghancurkan sel CD4. Kondisi ini akan terus berlanjut hingga seseorang mengalami AIDS dan memperburuk kehidupannya. Lantas, apakah HIV bisa sembuh?

Jika pertanyaan itu diajukan, jawabannya bisa bermacam-macam. Semua tergantung dengan kondisi seseorang yang terpapar, termasuk apa yang dia lakukan setelah terpapar virus tersebut. Namun, jawaban yang paling masuk akal—walau terdengar amat retoris—adalah, angka harapan hidup penderita bisa dioptimalkan.

Dunia medis sudah banyak melakukan studi, penelitian, serta penatalaksanaan yang menjadikan penderita HIV lepas dari bayang-bayang kematian. Tak dapat dimungkiri bahwa sejak awal perkembangan virus ini, penderita yang tak mendapat pertolongan dengan baik hanya akan berakhir di prosesi pemakaman.

Ketika penderita tak mendapat pertolongan, tubuhnya akan terus digempur virus ini sehingga sistem pertahanan tubuh mereka akan semakin lemah. Penderita tidak lagi memiliki kemampuan untuk melawan penyakit. Tanpa pengobatan, seseorang dengan HIV akan terserang bermacam penyakit kronis hingga diprediksi, mereka umumnya hanya bisa bertahan hidup selama 9 sampai 11 tahun setelah terinfeksi.

Sampai saat ini, penanganan yang dilakukan bertujuan mencegah virus tersebut menggila dan membuat tubuh sedikit memiliki perlawanan. Artinya, perawatan bagi para penderita HIV tidak dimaksudkan untuk membersihkan virus dari tubuh mereka, meski belakangan setitik cahaya muncul dari balik awan hitam tersebut.

Ada beberapa laporan yang menyebut bahwa telah terdapat pasien yang berhasil sembuh dari HIV. Pertanyaan “apakah HIV bisa sembuh?” kini punya ragam jawaban lain. Dilansir dari sebuah situs web tentang informasi dan edukasi perihal HIV dan AIDS, Avert, berikut beberapa berita tentang pasien yang berhasil terbebas dari infeksi HIV:

  • Pasien di London

Pada 2019 para ahli melaporkan adanya seorang pria yang terinfeksi HIV dan menerima transplantasi sel induk. Kini, ia sedang dalam tahap ‘remisi’ HIV. Artinya, pria di London tersebut tidak lagi menjalani pengobatan dengan antiretroviral dan dokter tidak dapat menemukan HIV di dalam tubuhnya. 

Pria ini dapat dinyatakan sembuh setelah menerima transplantasi sumsum tulang dengan kombinasi kemoterapi untuk menyembuhkan kanker darah yang dideritanya. Pendonor sel memiliki dua salinan gen CCR5 delta-32, yaitu mutasi genetik langka yang membuat orang kebal terhadap sebagian besar jenis HIV. Enzim CCR5 berperan penting dalam menonaktifkan ‘pintu masuk’ yang digunakan HIV untuk membuat sel tubuh terinfeksi. 

  • Pasien di Berlin

Kasus serupa pernah terjadi beberapa tahun sebelumnya, tepatnya pada 2008, seorang pria dari Berlin, Timothy Brown bisa sembuh dari HIV setelah menerima transplantasi sumsum tulang dan terapi radiasi total. Hingga kini Brown sudah tidak lagi menjalani pengobatan antiretroviral. Dia dinyatakan sembuh secara fungsional dari HIV karena tak lagi ditemukan adanya tanda-tanda virus itu bersemayam di dalam dirinya.

  • Bayi dari Mississippi, Amerika Serikat

Pada 2013 silam, sebuah konferensi terkait HIV/AIDS mengumumkan bahwa ada seorang bayi dari negara bagian Mississippi, Amerika Serikat, berhasil sembuh dari HIV setelah mendapat tiga jenis obat antiretroviral dalam dosis yang kuat semenjak dia lahir hingga usianya 18 bulan.

Namun, karena satu dan lain hal, pengobatan ini harus berhenti dan ketika beberapa waktu setelahnya dia dirawat di rumah sakit, dokter menemukan kembali virus HIV di dalam tubuh bayi malang tersebut.

Kasus ini membuat dunia medis membuat sebuah simpulan baru terkait pertanyaan “apakah HIV bisa disembuhkan?” Para dokter berpendapat bahwa sembuh dalam kasus HIV adalah sebuah kondisi yang amat fluktuatif. Keadaan bisa berganti dan berubah sewaktu-waktu dan secara tiba-tiba sehingga mereka sulit melekatkan predikat ‘sembuh’ kepada pasien HIV.

Kendati demikian, kasus bayi di Mississippi ini dapat dimaknai bahwa terapi antiretroviral (ARV) atau pengobatan apapun sejak dini dapat memengaruhi jawaban dari pertanyaan “apakah HIV bisa sembuh?” yang belum dapat dijawab secara pasti. Satu hal penting yang dapat diyakini adalah semua upaya yang dilakukan sejak dini bisa menghasilkan remisi jangka pendek. Setidaknya, tata laksana pengobatan penderita HIV dapat mengendalikan replikasi virus dan membatasi jumlah reservoir virus.