Mengenal Ferrous Sulfate, Obat untuk Anemia Defisiensi Besi

Ferrous sulfate adalah obat yang digunakan untuk merawat dan mencegah anemia defisiensi besi. Zat besi membantu tubuh untuk membuat sel darah merah yang sehat, yang membawa oksigen ke seluruh tubuh. Beberapa hal seperti hilangnya darah, kehamilan, atau zat besi yang terlalu sedikit dalam diet Anda dapat membuat asupan zat besi menurun dan mengakibatkan anemia. Ferrous sulfate hadir dalam bentuk tablet, atau tetesan yang Anda telan. Ada tablet dan kapsul ferrous sulfate yang dimodifikasi pelepasannya, namun produk tersebut mungkin tidak dapat diserap dengan baik. Ferrous sulfate tersedia dalam bentuk resep dan OTC yang dapat dibeli di apotek.

Siapa yang boleh dan tidak boleh mengonsumsi ferrous sulfate?

Kebanyakan orang dewasa dan anak-anak usia lebih dari 12 tahun dapat mengonsumsi ferrous sulfate di bawah saran dan resep dari dokter. Namun, ferrous sulfate mungkin tidak akan cocok untuk beberapa orang, misalnya pada mereka yang pernah menderita reaksi ferrous sulfate atau obat-obatan lain sebelumnya. Apabila Anda menderita anemia yang tidak disebabkan oleh level zat besi yang rendah, beritahu dokter. Selain itu, pastikan Anda memberitahu dokter apabila Anda memiliki kondisi yang memengaruhi level zat besi, seperti hemosiderosis atau haemochromatosis, dan memiliki kondisi yang memengaruhi sel darah merah, seperti anemia sel sabit atau thalassaemia. 

Ada pula beberapa kondisi yang perlu mendapatkan perhatian dan dokter harus mengetahuinya sebelum ia meresepkan ferrous sulfate, misalnya jika Anda pernah menderita maag, atau sebagian lambung diangkat, atau memiliki gangguan lambung atau usus seperti penyakit radang usus. Anda juga harus memberitahu dokter apabila Anda menerima transfusi darah berulang kali, melihat adanya darah di air seni, dan telah didiagnosa menderita defisiensi zat besi dan sudah mendapatkan perawatan untuknya. 

Efek samping

Sama halnya dengan obat-obatan lain, ferrous sulfate dapat menyebabkan efek samping bagi beberapa orang. Namun, kebanyakan orang tidak akan menunjukkan gejala efek samping apapun seusai mengonsumsi ferrous sulfate atau hanya memiliki gejala minor. Apabila Anda merasa mual dan muntah, sakit perut, maag, hilangnya nafsu makan, konstipasi, diare, dan kotoran yang berwarna gelap atau hitam, hubungi dokter. Dalam kasus yang langka atau jarang terjadi, ada kemungkinan seseorang akan memiliki reaksi alergi serius terhadap ferrous sulfate. Reaksi alergi tersebut akan menyebabkan ruam kulit yang gatal dan bengkak, kulit yang melepuh atau mengelupas, mengi, tenggorokan dan dada terasa sesak, kesulitan bernapas dan berbicara, serta pembengkakan di wajah, bibir, lidah, dan tenggorokan. Reaksi alergi yang serius perlu mendapatkan perawatan di rumah sakit secepatnya. 

Kehamilan dan menyusui

Biasanya aman untuk mengonsumsi ferrous sulfate pada masa kehamilan. Diskusikan dengan dokter, ia akan menjelaskan manfaat dan risiko mengonsumsi ferrous sulfate pada saat hamil. Dokter dapat membantu Anda memutuskan perawatan terbaik untuk Anda dan bayi. Apabila Anda sedang hamil dan minum suplemen zat besi, Anda akan sering konstipasi dan menderita ambeien. Apabila hal tersebut terjadi pada Anda, diskusikan dengan dokter. Mereka akan menyarankan perawatan untuk mengatasi konstipasi dan ambeien. 

Biasanya ibu dapat mengonsumsi ferrous sulfate pada masa menyusui bayi, dan hal tersebut merupakan hal yang aman. Namun, beberapa bagian obat dapat ikut terbawa ASI dalam jumlah sedikit. Namun, karena jumlah yang sangat sedikit, hal tersebut tidak akan membahayakan bayi. Selalu konsultasi dengan dokter apabila Anda memiliki kekhawatiran saat akan mengonsumsi obat-obatan tertentu.

Ini Gejala Seseorang Mengalami Gangguan Pembekuan Darah

Pernahkah Anda mengalami luka kecil namun darahnya tak kunjung berhenti? Jika sering terjadi demikian, mungkin Anda mengalami gangguan pembekuan darah.

Seperti yangd iketahiu, tubuh memiliki kemampuan untuk mencegah agar volume darah yang hilang atau keluar tidak terlalu banyak dengan mekanisme pembekuan darah atau disebut juga koagulasi. Nah, saat tubuh mengalami luka, secara alami darah di area sekitar luka akan menjadi padat karena adanya faktor pembekuan darah ini. Sehingga luka menjadi tertutup dan perdarahan yang terjadi pun bisa berhenti segera.

Akan tetapi, ada beberapa gangguan pembekuan darah yang membuat darah berhenti lebih lama dan perdarahan jadi lebih berat. Bahkan secara spontan perdarahan terkadang bisa muncul. Hal ini dikarenakan tidak terbentuk atau jumlah faktor pembekuan tersebut sedikit.

Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi, yaitu darah menjadi sulit membeku atau darah akan jadi lebih mudah untuk membeku.

Penyebab Terjadinya Gangguan Pembekuan Darah

Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya gangguan pembekuan darah ini. Faktor utamanya adalah adanya gangguan pada komponen-komponen yang telribat dalam proses pembekuan darah. Misalnya ada masalah pada trombosit dan protein yang merupakan faktor pembekuan darah.

Sel tubuh membutuhkan trombosit dan faktor pembekuan darah lainnya agar darah bisa menggumpal dengan baik. Ketika terjadi luka, trombosit akan berkumpul di area luka dan trombosit akan menyatu satu sama lainnya (agregasi trombosit).

Di waktu yang bersamaan faktor lain dan protein juga bekerja sama dengan trombosit guna membentuk jaringan fibrin yang berguna untuk menyumbat luka sehingga perdarahan berhenti.

Selain karena kekurangan trombosit atau faktor pembeku lainnya, darah yang sulit membeku juga disebabkan oleh kedua faktor tersebut tidak bekerja dengan baik dan optimal. Berikut beberapa penyebab gangguan pembekuan darah lainnya, yaitu:

  • Memilik gangguan medis tertentu yang bisa membuat darah sukar membeku. Penyakit tersebut adalah anemia, gangguan fungsi hati, defisiensi vitamin K, dan juga efek samping dari obat antikoagulan
  • Penyakit turunan juga bisa menyebabkan gangguan pembekuan darah ini. Jenis yang paling sering terjadi adalah hemofilia, penyakit von Willebrand, dan defisiensi faktor pembekuan II, V, VII, X, atau XII.

Tanda dan Gejala Gangguan Pembekuan Darah

Gejala yang dialami oleh orang dengan gangguan pembekuan darah bisa bervariasi, tergantung pada seberapa berat kondisi dan penyebabnya.

Biasanya gangguan pembekuan darah yang ringan mungkin tidak menunjukkan gejala yang berarti. Namun, jika penderita mengalami trauma berat atau setelah menjalani operasi besar, mungkin saja gejala perdarahan baru muncul. Berbeda dengan gangguan pembekuan darah berat, gejala bisa terlihat meskipun hanya mengalami perdarahan spontan saja.

Berikut gejala-gejala yang dialami oleh penderita gangguan pemebekuan darah umum, yaitu:

  • Muncul memar atau lebam biasanya berukuran besar tanpa alasan yang jelas.
  • Terjadi perdarahan berlebihan dan tidka berhenti padahal hanya luka kecil
  • Mimisan tidak berhenti dalam 10 menit
  • Mengalamo perdarahan dalam sendi seperti lutut, siku, dan pergelangan kaki yang menyebabkan rasa nyeri, kaku, hingga bengkak.
  • Gusi kerap berdarah
  • Mengalami demam berulang
  • Volume darah menstruasi sangat banyak
  • Penderita juga mengalami sesak napas, jantung yang berdebar, dan terasa nyeri dada

Gangguan pembekuan darah ini secara umum tidak bisa dicegah. Anda sebagai penderita gangguan ini sebisa mungkin mencegah agar tidak terjadi cedera atau luka agar tidak terjadi perdarahan yang berlebihan.