Swab Antigen C19 Bisakah Diandalkan?

Swab Antigen C19

Pada saat sebelum Mike DeWine, gubernur Ohio, bertemu dengan mantan Presiden Trump di bandara Cleveland, DeWine mendapatkan tes swab antigen C19 dengan hasil yang positif memiliki SARS-CoV-2 yang menyebabkan penyakit COVID-19. Namun, tes lanjutan, menggunakan reaksi rantai polimerase yang lebih akurat, atau dikenal dengan tes PCR, DeWine ternyata tidak memiliki virus ini. Hasil positif palsu swab antigen c19 ini bukanlah insiden satu-satunya yang terjadi. Puluhan orang yang mendapatkan tes rapid SARS-CoV-2 dari perusahaan biotech Quidel di Manchester, Vermont, klinik diberitahu bahwa mereka memiliki virus corona. Namun, tes PCR yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan menemukan bahwa hanya 4 dari 65 orang tersebut yang dites benar-benar positif. 

Dengan orang-orang di seluruh Amerika Serikat kembali ke sekolah atau tempat kerja, perusahaan dan universitas mulai beralih menggunakan tes rapid dari swab antigen c19 sebagai cara untuk mengidentifikasi apakah seseorang memiliki virus tersebut. Akan tetapi, tidak ada satu tes pun yang benar-benar bisa memberikan hasil sangat akurat, yang berarti dalam beberapa kasus akan ada hasil negatif palsu (false negative) dan beberapa orang akan diberitahu bahwa mereka memiliki virus tersebut meskipun faktanya mereka tidak memilikinya sama sekali (false positive). Hal ini tentunya dapat menyebabkan kebingungan, terutama jika orang-orang tidak menyadari tes jenis apa yang telah mereka dapatkan dan lakukan. Namun, beberapa ahli menyatakan bahwa tes yang dilakukan di banyak daerah, meskipun kurang akurat, masih dapat membantu menekan laju pandemi COVID-19 di Amerika Serikat. 

Jenis tes coronavirus

Ada tiga jenis tes coronavirus, yaitu:

  • Tes genetik

Tes ini bertujuan untuk mencari RNA virus di swab tenggorokan dan hidung, atau pada sampel air liur. Tipe yang paling sering dijumpai adalah tes polymerase chain reaction (PCR). 

  • Tes antigen

Swab antigen c19 mencari protein khusus yang ada di permukaan virus

  • Tes antibodi

Ini merupakan sebuah tes darah yang mencari tanda-tanda bahwa seseorang memiliki infeksi virus dan memiliki respon kekebalan. Tes ini tidak digunakan untuk mendiagnosis infeksi yang aktif. 

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menganggap tes PCR sebagai “standar emas” pengujian SARS-CoV-2. Tes ini dilakukan di laboratorium rumah sakit, universitas, dan agensi kesehatan publik. Beberapa laboratorium dapat memproses sampel hanya dalam waktu 1 hari saja, namun terkadang membutuhkan waktu lebih lama, dengan beberapa orang perlu menunggu selama satu minggu atau lebih untuk mengetahui apakah hasil tes mereka positif atau tidak. 

Swab antigen c19 dapat dilakukan dengan lebih cepat, dengan hasil sudah bisa diambil dalam waktu 15 menit saja, menggunakan swab air liur atau hidung. Sama seperti tes PCR, tes antigen akan menunjukkan apakah seseorang memiliki infeksi aktif atau tidak. Meskipun tes antigen lebih cepat dan jumlah tes yang sedang dilakukan dapat dengan mudah dinaikkan, tes jenis ini memiliki angka negatif palsu yang cukup tinggi, dengan sekitar setengah dari hasil negatif menunjukkan ketidakakuratan. 

Oleh karena itu, Departemen Kesehatan Vermont menghitung tes antigen positif sebagai kasus positif apabila tes PCR menyatakan hal yang sama. Negara Bagian lain di Amerika Serikat memiliki prosedur serupa. Meskipun demikian, tes PCR tidak selamanya akurat. Beberapa studi telah menemukan bahwa sekitar 29 persen dari tes PCR dapat memberikan hasil negatif palsu. Tingkat keakuratan kedua tes tersebut, tes PCR dan swab antigen c19, bervariasi tergantung tes dan produsen tes tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *