Ini Dia Cara Atasi Penyebab Mata Ikan Secara Efektif

Apabila Anda pernah mengalami tumbuhnya mata ikan di telapak kaki, perasaan tidak nyaman seringkali menyertai Anda ketika sedang berjalan atau berdiri. Faktor penyebab mata ikan tidak lain adalah virus. Pada awalnya, mata ikan tidak akan menunjukkan gejala apa pun. Namun, Anda akan merasa nyeri akibat tekanan saat berjalan atau berdiri.

Mungkin banyak yang belum mengetahui bahwa mata ikan menular. Maka dari itu, mengatasi hingga ke akarnya menjadi penting untuk dilakukan. Di bawah ini, terdapat beberapa cara mudah untuk mengatasi penyebab mata ikan secara efektif.

Bagaimana membasmi penyebab mata ikan

  • Asam salisilat

Cara pertama yang dapat Anda lakukan adalah dengan menggunakan obat yang mengandung asam salisilat. Dengan cara ini, kandungan asam salisilat akan secara perlahan mengikis kulit mata ikan hingga ia benar-benar hilang.

Anda dapat menggunakan obat ini sebanyak 2 kali sehari agar mendapatkan hasil yang optimal. Cara penggunaannya adalah dengan merendam bagian tubuh yang terkena mata ikan dalam air hangat selama 10 menit sebelum menggunakan obat ini.

  • Plester duct tape

Plester duct tape adalah plester sejenis lakban yang dapat Anda gunakan untuk menutupi area tubuh yang ditumbuhi mata ikan. Penggunaannya cukup mudah, yaitu hanya dengan menempelkan pada area mata ikan dan menggantinya setiap dua kali sehari. Jika Anda ingin mempercepat penyembuhan, Anda diperbolehkan untuk mengganti plester lebih sering dari yang direkomendasikan. Mata ikan akan hilang minimal setelah 28 hari penggunaan plester ini.

Walaupun cara ini terdengar sederhana, namun sebuah penelitian menyebutkan bahwa penggunaan plester duct tape lebih efektif jika dibanding dengan prosedur cryotherapy (prosedur medis untuk menghilangkan mata ikan).

  • Larutan povidone iodine

Selain dua cara di atas, Anda juga dapat menggunakan cairan dengan kandungan Povidone Iodine yang diaplikasikan sebanyak dua kali sehari secara rutin. Mata ikan akan hilang dalam kurun waktu 12 minggu. Obat ini cukup mudah ditemukan di apotek terdekat tanpa perlu resep dari dokter.

Kenali Perbedaan Pengapuran Tulang dan Pengeroposan Tulang

Meskipun terdengar sama, namun Anda perlu tahu bahwa pengapuran tulang dan pengeroposan tulang merupakan kondisi yang berbeda. Pengapuran tulang atau biasa disebut osteoarthritis merupakan penyakit pada tulang dan persendian yang seringkali dikaitkan dengan proses penuaan. Sedangkan pengeroposan tulang atau osteoporosis adalah suatu kondisi dimana terjadi pengurangan kepadatan dan kualitas tulang. Supaya tahu lebih jelas, simak artikel berikut ini.

Pengapuran tulang

Pengapuran tulang atau osteoartritis merupakan penyakit tulang dan persendian yang berkaitan dengan penuaan. Pada pengapuran tulang ini terjadi penipisan pada tulang rawan yang berfungsi sebagai bantalan antar tulang yang satu dengan yang lain dan menjaga agar pergerakan antar sendi dapat berlangsung dengan lancar dan mudah.

Kondisi ini umumnya terjadi di tulang-tulang besar yang berfungsi sebagai penyangga berat badan tubuh seperti lutut, panggul, tulang belakang, dan pergelangan kaki. Pengapuran tulang dapat terjadi secara perlahan dengan penyebab yang hingga kini tidak diketauhi. Namun, ada beberapa faktor resiko seperti obesitas, lemah otot, aktivitas fisik berlebih atau kurang, trauma sendi, dan faktor keturunan turut menyumbang terjadinya pengapuran tulang.

Pada pengapuran tulang, gejala utama yang biasanya dialami penderitanya adalah nyeri sendi, gangguan pergerakan, kaku sendi pada pagi hari atau setelah beristirahat, dan bengkak di sekitar persendian. Nyeri sendi umumnya diperparah jika seseorang makin banyak bergerak dan kadang terdengar bunyi “klik” pada saat bergerak.

Pengeroposan tulang

Pengeroposan tulang berbeda dengan pengapuran tulang. Jika pengapuran terjadi pada tulang rawan, pada pengeroposan tulang terjadi pengurangan kepadatan dan kualitas tulang secara perlahan dan terus menerus. Pengeroposan tulang dapat terjadi pada siapa saja, tetapi wanita, orang dengan lanjut usia, dan orang dari ras kaukasia lebih beresiko mengalami pengeroposan tulang.

Pada wanita menopause pengeroposan tulang dapat terjadi lebih cepat. Tidak seperti pengapuran tulang yang menimbulkan gejala nyeri, pada pengeroposan tulang gejala tidak dirasakan hingga terjadi patah tulang. Hal ini menyebabkan pengeroposan tulang disebut sebagai silent disease. Baik pengapuran dan pengeroposan tulang merupakan kondisi kronis yang terjadi pada tulang. Meskipun terlihat mirip, tetapi keduanya memiliki gejala dan penyebab yang sangat berbeda.

Waspada Jantung Membengkak Alias Kardiomegali, Ini Gejalanya!

Mungkin Anda pernah mendengar atau membaca berita mengenai kondisi jantung seseorang yang membesar atau membengkak. Pada dunia medis, kondisi ini disebut dengan kardiomegali. Kardiomegali bukan sebuah penyakit. Istilah ini merujuk pada kondisi yang dapat menjadi tanda untuk penyakit lain yang menyerang jantung Anda. Lalu, bagaimana cara mendeteksinya?

Gejala yang dialami penderita kardiomegali

Ada beberapa gejala yang perlu dicurigai bagi penderita kardiomegali, gejala tersebut meliputi:

  • Aritmia, atau detak jantung yang tidak normal
  • Edema yaitu kondisi dimana kaki dan pergelangannya mengalami pembengkakan
  • Mengalami pusing
  • Mudah merasa lelah
  • Sesak napas

Selain itu, penderita yang sudah tahap lanjut mungkin mengalami gejala-gejala di bawah ini yang berupa sesak napas yang berat, nyeri di area dada, pingsan, serta muncul rasa tidak nyaman atau sakit pada tangan leher, rahang, atau punggung. Penting untuk Anda ingat bahwa gejala-gejala di atau mungkin berbeda satu sama lain di antara penderitanya. Selain itu, beberapa orang yang mengalami kardiomegali bisa saja tidak menunjukkan gejala-gejala yang sudah disebutkan.

Bagaimana dokter mendiagnosis kardiomegali?

Jika seseorang mengalami gejala-gejala kardiomegali, berkonsultasi dan menemui dokter sangat disarankan. Untuk tahap pertama, foto rontgen thoraks (dada) menjadi pemeriksaan umum yang dilakukan oleh dokter untuk meninjau ada tidaknya pembesaran pada jantung.

  • Echocardiogram

Tes yang memakai gelombang suara untuk bisa memantau dan mendiagnosis pembesaran pada jantung. Hasil tes ini membantu untuk menentukan efisiensi pemompaan pada jantung.

  • Elektrokardiogram

Tes yang dapat untuk melihat permasalahan irama pada jantung serta memantau aktivitas listrik pada organ ini. Selain itu, tes juga bisa mendeteksi kerusakan akibat dari serangan jantung.

  • Tes stres

Tes yang dapat memantau detak jantung, tekanan darah, serta pernapasan saat Anda mengayuh sepeda statis atau berjalan di  atas treadmill. Dengan tes ini, kinerja jantung pada waktu melakukan aktivitas fisik dapat terlihat.

  • Tes pencitraan

Tes ini dapat membantu dokter untuk mendeteksi penyakit katup jantung atau peradangan. Selain itu, tes ini juga bisa menunjukkan struktur jantung dan dada.  Tes magnetic resonance imaging (MRI), computerized tomography (CT) scan, dan X-ray.

  • Tes darah

Tes darah memiliki fungsi untuk meninjau zat yang terkandung dalam darah yang dihasilkan oleh tubuh serta yang dapat menyebabkan kardiomegali.

Cara Mengatasi Mioma Uteri

Tumor jinak yang timbul di dinding rahim atau uteri seringkali tidak menunjukan gejala yang berarti. Namun, pada beberapa kasus tertentu penderita mioma uteri dapat merasakan gejala yang mengganggu dan cukup serius seperti perdarahan berat dan nyeri perut yang hebat. Pada kondisi yang seperti ini, mioma uteri membutuhkan perawatan dari ahli kandungan.

Perawatan pada penderita mioma uteri dapat dilakukan dengan berbagai macam cara bergantung pada gejala yang timbul, letak mioma uteri, dan rencana persalinan di kemudian hari. Pada kasus mioma uteri yang ringan, pemberian obat-obatan dapat digunakan untuk mengatasi mioma uteri. Sedangkan pada kasus mioma uteri sedang hingga berat, operasi merupakan pilihan utama untuk perawatan mioma uteri.

Pilihan operasi untuk mengatasi mioma uteri

  1. Miomektomi

Prosedur menghilangkan mioma uteri dengan meninggalkan jaringan yang sehat. Prosedur ini disarankan pada wanita yang ingin hamil di kemudian hari. Terdapat tiga pilihan miomektomi, yaitu abdominal, histeroskopi, dan laparaskopi yang pemilihannya dilakukan berdasarkan ukuran, jumlah, dan letak mioma uteri.

  • Histerektomi

Prosedur pengangkatan rahim sebagian atau seluruhnya. Umumnya, histerektomi dilakukan pada mioma uteri yang berukuran besar dan menunjukkan gejala perdarahan hebat. Histerektomi total dapat mencegah timbulnya mioma uteri kembali.

  • Ablasi endometrium

Operasi ini dilakukan pada mioma uteri yang berukuran kecil dengan gejala yang berat. Ablasi endometrium dilakukan melalui vagina dan bertujuan untuk menghancurkan lapisan rahim yang mengandung mioma uteri dengan laser, listrik, panas, atau pembekuan. keuntungan dari ablasi endometrium adalah perdarahan yang minimal dan pemulihan yang cepat paska operasi.

  • Miolisis

Operasi ini dapat menghilangkan mioma uteri yang berukuran kecil dengan memotong suplai darah ke tumor sampai menyusut dan mati. Energi dari frekuensi radio, pemanasan, dan pembekuan bisa digunakan pada prosedur miolisis. Prosedur ini dapat menyebabkan infeksi dan timbulnya jaringan parut yang dapat mempengaruhi kesuburan. Oleh karena itu, Anda perlu diskusikan lebih lanjut jika Anda merencanakan kehamilan di kemudian hari sebelum melakukan miolisis.

  • Embolisasi arteri uterus

Operasi ini dilakukan jika mioma uterus menimbulkan gejala perdarahan atau nyeri hebat. Tabung tipis dimasukkan ke dalam arteri rahim dan disuntikkan zat yang dapat memotong suplai darah ke mioma untuk mengecilkan ukuran mioma uteri.